JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Matoa

Matoa merupakan tanaman buah yang menjadi identitas flora Papua, yang tersebar hampir di setiap daerah, diantaranya: dataran Seko (Jayapura), Wondoswaar-pulau Weoswar, Anjai Kebar, Warmare, Armina-Bintuni, Ransiki, Pami-Nuni (Manokwari), Samabusa-Nabire, dan pulau Yapen (Karyaatmaja dan Suripatty, 1997). Matoa dikenal dengan berbagai nama, yaitu Kasai (Kalimantan Utara, Malaysia, Indonesia), Malugai (Philipina), dan Taun (Papua New Guinea). Sedangkan nama daerah adalah Kasai, Kongkir, Kungkil, Ganggo, Lauteneng, Pakam (Sumatera); Galunggung, Jampango, Kasei, Landur (Kalimantan); Kase, Landung, Nautu, Tawa, Wusel (Sulawesi); Jagir, Leungsir, Sapen (Jawa); Hatobu, Matoa, Motoa, Loto, Ngaa, Tawan (Maluku); Iseh, Kauna, Keba, Maa, Muni (Nusa Tenggara); Ihi, Mendek, Mohui, Senai, Tawa, Tawang (Papua) (Dinas Kehutanan DATI I Irian Jaya, 1976 dalam Rumayomi, 2003).

Pometia pinnata Forst. umumnya tumbuh secara alami pada tanah-tanah datar bertekstur liat sehingga pada waktu hujan agak tergenang air. Buah yang bercitarasa campuran rambutan, lengkeng dan rambutan ini termasuk dalam keluarga rambutan-rambutanan (Sapindaceae). Pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian RI No. 160/Kpts/SR.120/3/2006 telah menetapkan Matoa sebagai buah unggul yang patut dibudidayakan. Masyarakat Papua umumnya melakukan penanaman Matoa melalui perbanyakan generatif dengan biji. Melalui perbanyakan ini, matoa akan bmulai berbuah pada umur 4-5 tahun. Matoa bisa diperbanyak dengan cara cangkok. Perbanyakan dengan cangkok menjadikan umur mulai berbuah menjadi relative singkat jika dibanding perbanyakan melalui biji, yakni umur 2-3 tahun. Seperti kebanyakan buah tropis lain, Matoa memiliki masa panen yakni pada bulan Oktober-Desember.

Selain buahnya dapat dikonsumsi, Matoa memiliki berbagai manfaat lain. Batang kayu Matoa dapat digunakan sebagai bahan bangunan konstruksi ringan, biji matoa dapat dijadikan bahan makanan, serasah daun matoa dimanfaatkan sebagai mulsa, kulit batang matoa dapat digunakan sebagai pewarna kain. Matoa juga digunakan dalam pengobatan beberapa penyakit. Kulit batang matoa dimanfaatkan untuk mengobati luka bakar dan bernanah mengobati demam, cacar ayam, sakit perut, diare, disentri, batuk, sembelit, penyakit tulang, otot dan sendi, sakit kepala, flu,diabetes dan bisul.

Masyarakat Papua membedakan matoa berdasarkan tekstur buah/salut biji (arillus). Matoa kelapa memiliki salut biji salut biji yang kenyal menyerupai selaput bagian dalam kelapa muda serta mudah lepas dari biji (nglontok) dengan diameter buah 2,2-2,9 cm dan diameter biji 1,25-1,4 cm. Matoa papeda memiliki salut biji yang lembek menyerupai kekenyalan dari papeda (makanan khas orang papua yang terbuat dari pati sagu) dan lengket dengan diameter 1,4-2,0 cm. Matoa Papeda banyak tersebar di bagian barat Papua (provinsi Papua Barat), sedangkan Matoa Kelapa lebih banyak tersebar di bagian tengah sampai timur Papua (provinsi Papua).

Matoa juga dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan warna kulit buahnya, yaitu Emme Bhanggahe (Matoa Kulit Merah), Emme Anokhong (Matoa Kulit Hijau) dan Emme Khabhelaw (Matoa Kulit Kuning).

BPTP Papua telah melakukan kegiatan karakterisasi pada beberapa aksesi matoa, diantaranya adalah yang tumbuh di kampung kampung Hebeaibulu, Kelurahan Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura. Matoa di kampung Hebeaibulu memiliki tinggi pohon 10-15 m. Batang bulat berkayu berwarna coklat tua. Daun berwarna hijau tua, berbentuk oblong dengan pangkal tumpul dan ujung meruncing. Daun tebal dengan permukaan berkilau dan licin dengan tulang daun menyirip berwarna hijau. Buah berbentuk bulat lonjong, dengan warna hijau dan permukaan kulit buah licin. Buah tersusun dalam tangkai, dengan satu tangkai terdiri dari 10-25 buah. Panjang buah sekitar 3cm, dengan keliling sekitar 7-8 cm. Buah muda keras, setelah masak menjadi lunak ketika ditekan. Berat buah sekitar 35-45 gram. Rasa manis.

  

Kegiatan Karakterisasi juga dilakukan di beberapa kampung dengan hasil sebagai berikut:

No

Lokasi Karakterisasi

Karakter Matoa

1

Kampung Besum, Distrik Namblong, Kab Jayapura, Papua

Buah berwarna hijau, daun lebar

2

Kampung Yakotim, Distrik Kemtuk Gresi, Kab Jayapura, Papua

Daun lebar memanjang, buah hijau

3

Kampung Harapa, Distrik Sentani Timur, Kab Jayapura, Papua

Buah warna hijau, daging buah berwarna putih tidak terlalu lembek. Ciri daun: bergerigi di pinggiran daun

4

Kampung Sere, Distrik Sentani Tengah, Kab Jayapura, Papua

Tepi daun bergelombang, warna daun hijau tua, daging buah bewarna putih kekuning-kuningan, daging buah terlepas dari biji, rasanya manis

 

 Daftar Pustaka

Laporan Tahunan BPTP Papua

Berbagai sumber