JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Anggrek di Papua

Anggrek

Anggrek (Orchidaceae) merupakan suku terbesar dari tumbuhan berbunga (Huynh et al. 2009), yang terdiri dari hampir 25. 000 spesies (Gravendeel et al. 2004). Berdasarkan tempat tumbuhnya, Soetopo (2009) menggolongkan anggrek menjadi anggrek epifit dan anggrek terresterial. Anggrek epifit merupakan anggrek yang tumbuhnya menempel pada tumbuhan lain, namun tidak merugikan tumbuhan yang ditumpanginya contohnya genus Dendrobium, Bulbophyllum, dan Coelogyne. Sedangkan anggrek terresterial adalah anggrek yang tumbuhnya di tanah, contohnya genus Spathoglottis, Calanthe, dan Paphiope-dilum. Lebih dari 70% dari semua spesies anggrek adalah epifit (Gravendeel et al. 2004). Anggota dari suku ini dapat ditemukan di seluruh dunia, kecuali padang pasir yang kering dan daerah yang selalu tertutup salju. Sebagian besar keragamannya terpusat dikawasan tropis dan subtropis dengan sebaran dari dataran rendah sampai tinggi (Widiastoety et al. 1998; Sandra 2002).

Pakar anggrek menganggap bahwa Indonesia merupakan negara dengan spesies anggrek paling kaya di dunia, bukan hanya dalam jumlah genus, namun juga dalam hal spesies dengan varietas dan tipe-tipenya. Salah satu pulau yang memiliki keanekaragaman anggrek yang tinggi adalah Papua yaitu kurang lebih 2500 spesies (Conservasi International, 1997; Bappenas, 2003). Di Indonesia sendiri tidak kurang dari 6000 jenis anggrek telah berhasil diidentifikasi (Widiastoety et al. 1998).

Papua memiliki potensi kekayaan anggrek yang besar. Lugrayasa (2010) menyatakan bahwa Papua menyimpan hampir setengah dari seluruh spesies anggrek yang terdapat di Indonesia. Sebagian besar anggrek masih berupa anggrek liar atau anggrek alam dan beberapa spesies merupakan anggrek endemik Papua seperti Paphiopedilum glanduliferum (Blume) Stein, Grammitis ceratocarpa, Grammitis coredrosora, Grammitis habbensis, dan lain sebagainya. Salah satu spesies yang terkenal adalah anggrek raksasa Irian yang dikenal dengan Grammatophyllum papuanuum.

Inventarisasi adalah survei untuk menentukan keberadaan, kelimpahan relatif, status, dan distribusi sumber daya abiotik, spesies, habitat, atau komunitas ekologi pada titik tertentu. Inventarisasi merupakan tahapan awal dan terpenting dari sebuah konservasi (Elzinga et al. 1998)

Penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif yang telah dilaksanakan di 11 distrik di Kabupaten Merauke dengan 30 petak pengamatan pada masing-masing distrik. Hasil survei yakni ditemukan 41 spesies anggrek, terdiri dari 4 spesies anggrek terrestrial dan 37 spesies anggrek epifit dengan jumlah total individu sebanyak 46508 individu. Indeks keanekaragaman menunjukkan angka 2,65 (2≤ H’ ≤ 3) sehingga keanekaragaman anggrek masuk dalam kategori sedang. Indeks kemerataan sebesar 0,71 (mendekati 1) yang artinya spesies anggrek terdistribusi secara merata (Pammai et al.).

>3

Keanekaragaman tinggi, penyebaran jumlah individu tiap spesies tinggi dan kestabilan komunitas tinggi

1-3

Keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap spesies sedang, dan kestabilan komunitas sedang

<1

Keanekaragaman rendah, penyebaran jumlah individu tiap spesies
rendah, dan kestabilan komunitas rendah

 

 

Dendrobium

Indonesia merupakan pusat keanekaragaman genetik beberapa jenis anggrek yang berpotensi sebagai tetua untuk menghasilkan varietas baru anggrek bunga potong, seperti Dendrobium, Vanda, Arachnis, dan Renanthera, maupun sebagai tanaman pot. Dendrobium merupakan salah satu genus anggrek terbesar dari famili Orchidaceae, dan meliputi lebih dari 2.000 spesies (Uesato 1996). Dendrobium merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia, dan jumlahnya diperkirakan mencapai 275 spesies (Gandawidjaya dan Sastrapradja 1980). Spesies anggrek Den drobium terbaik banyak terdapat di kawasan timur Indonesia, seperti Papua dan Maluku.

Anggrek Dendrobium banyak digunakan dalam rangkaian bunga karena memiliki kesegaran yang relatif lama, warna dan bentuk bunganya bervariasi, tangkai bunga lentur sehingga mudah dirangkai, dan produktivitasnya tinggi. Tingkatan warna anggrek Dendrobium sangat  bervariasi. Umumnya, anggrek hibrida berwarna lembayung muda, putih, kuning keemasan atau kombinasi dari warnawarna tersebut. Beberapa hibrida Dendrobium hasil pemuliaan modern memiliki warna kebiruan, gading, atau jingga tua sampai merah tua. Dendrobium dapat berbunga beberapa kali dalam setahun. Tangkai bunganya panjang dan dapat dirangkai sebagai bunga potong (Puchooa 2004).

Persilangan untuk mendapatkan varietas unggul baru merupakan salah satu upaya dalam pengembangan anggrek. Persilangan memerlukan induk yang mempunyai sifat-sifat unggul. Di Indonesia, tanaman anggrek Dendrobium sebagai sumber genetik/tetua untuk persilangan banyak dijumpai di hutan belantara.

 

Karakterisasi Anggrek oleh BPTP Papua

BPTP Papua telah melakukan karakterisasi beberapa anggrek di wilayah provinsi Papua. Beberapa diantaranya dikoleksi di rumah anggrek yang berada di perkantoran BPTP Papua di Jalan Yahim, Sentani.

1. Anggrek Kelapa

  

2. Anggrek Nanas

 

3. Anggrek Lokal

 

 

Daftar Pustaka

Laporan tahunan BPTP Papua.

Conservasi International. 1997. Lokakarya Kawasan Konservasi di Irian Jaya. Papua: CI Papua Programme

Elzinga CL,. Salzer DW, Willoughby JW. 1998. Measuring and Monitoring Plant Populations. Bureau of Land Management National Business Center, Colorado.

Gravendeel B, Smithson A, Slik FJW,Schuiteman A. 2004. Epiphytism and pollinator specialization: drivers for orchid diversity? Phil Trans RSocLondon 359: 1523-1535

Lugrayasa, I.N. Konservasi Anggrek Alam oleh Masyarakat di Sekitar Kawasan Cagar Alam Cycloops Papua. Makalah. Disampaikan pada Seminar Nasional Konservasi dan Pendayagunaan Keanekaragaman Tumbuhan Lahan Kering.

Pammai K, Al Muhdhar MHI, Rohman F. Studi Keanekaragaman Anggrek Di Kabupaten Merauke Propinsi Papua. Seminar Nasional XI Pendidikan Biologi FKIP UN hlm 301-307

Soetopo, L. 2009. Keanekaragaman dan Pelestarian Tanaman Anggrek. Malang: Penerbit Citra.

Widiastoety D, Solvia N, & Soedarjo M. Potensi Anggrek Dendrobium Dalam Meningkatkan Variasi Dan Kualitas Anggrek Bunga Potong. Jurnal Litbang Pertanian, 29(3), 2010 101-106.

Widiastoety, D, Solvia N, Syafni. 1998. Kultur embrio pada anggrek Dendrobium. J Hortikultura 7(4):860-868.