JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
PENGKAJIAN SISTEM USAHATANI TERNAK BABI LOKAL DI DATARAN TINGGI KABUPATEN JAYAWIJAYA

Alberth Soplanit, Batseba W Tiro, Jhoni Sahetapy


RINGKASAN

Pengkajian Model Pengembangan Integrasi Babi-Ubijalar Dalam Sistem Usahatani Ternak Babi Lokal di Dataran Tinggi Kabupaten Jayawijaya. Ubijalar merupakan makanan pokok masyarakat di Jayawijaya, disamping itu petani menggunakan ubijalar dan daunnya sebagai pakan babi. Untuk menghindari persaingan dalam hal pakan babi dengan pangan manusia maka hasil penelitian telah mendapatkan klon harapan ubijalar potensial untuk pakan babi yaitu BB 97255.5 dan MLG 12709 disamping varietas lokal Musan yang sudah digunakan petani sebagai salah satu varietas ubijalar untuk pakan babi. Pemberian pupuk 5 – 20 t/ha dapat meningkatkan produksi ubijalar, dimana dengan dosis 20 t/ha dapat meningkatkan hasil 22,06 tha dibandingkan tanpa pupuk hanya 10.52 t/ha. Dalam upaya meningkatkan pendapatan petani maka perlu adanya suatu model rakitan teknologi spesifik lokasi. Sehingga diharapkan dapat saling kompatibel dalam usahatani yang dilakukan. Salah satu model yang dapat dilakukan adalah dengan sistem integrasi babi-ubijalar (wam hipere). Model ini disamping dapat meningkatkan produktivitas ternak karena pakan tersedia dari kebun ubijalar, demikian juga kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk ubijalar. Pengkajian dilaksanakan di lahan petani dengan melibatkan petani secara aktif dalam pelaksanaan kegiatan dan didampingi oleh peneliti, penyuluh dan teknisi. Tujuan pengkajian ini adalah pengembangan model teknologi integrasi babi-ubijalar (wam-hipere) spesifik lokasi di daerah sentra pengembangan ternak babi dan ubijalar. Hasil pengkajian menunjukan bahwa Pertambahan bobot badan babi pola introduksi sebesar 0,15 kg/ekor/hari atau 155 gr/ekor/hari, sedangkan pola petani sebesar 1,05 kg/ekor/hari atau 50 gr/ekor/hari. sedangkan tingkat konsumsi pakan adalah sebesar 750 g/ekor. Konversi pakan dari yang diperoleh pada pengkajian ini adalah sebesar 4,82. Produksi ubijalar selama empat bulan pengkajian memiliki berat umbi basah rata-rata 1,2 kg/kuming atau rata-rata 16.000 kg/ha (16 t/ha). Berdasarkan perhitungan tingkat kebutuhan konsumsi ternak babi selama pengkajian menunjukan bahwa rata-rata kebutuhan ubijalar 1,5 kg/ekor/hari atau 180 kg/ekor/4 bulan atau 3.600 kg/20 ekor/4 bulan. Perhitungan pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran ternak menunjukan bahwa rata-rata kotoran ternak basah selama pengkajian empat bulan adalah 610 kg atau 30,5 kg/ekor. Dengan kata lain setiap ekor menghasilkan kotoran basah sebesar 0,25 kg per hari. Jika diasumsikan bahwa lahan 0,20 hektar terdapat 2.666 tanaman maka setiap tanaman akan memperoleh pupuk organik yang berasal dari kotoran babi sebesar 0,23 kg atau 230 gr/tanaman. Selama empat bulan pemeliharaan babi, pendapatan yang diperoleh pada pola introduksi sebesar Rp.15.378,556 atau Rp.3.844,639/bulan sedangkan pola petani sebesar Rp.8.872,444 atau 2.218,111/bulan, hasil analisis kelayakan usaha pola introduksi menunjukan bahwa RC/ratio sebesar 1,44 sedangkan pola petani memiliki RC/ratio sebesar 1,26. Hasil ini menunjukan bahwa pola introduksi babi – ubijalar lebih menguntungkan dan bisa diterapkan oleh petani.


(Selengkapnya dapat hubungi kami di alamt email : bptp-papua@litbang.deptan.go.id)
KARAKTERISASI, IDENTIFIKASI DAN KONSERVASI TANAMAN GEMBILI DI PAPUA

Mariana Ondikeleuw, A.Wahid Rauf, Martina Sri Lestari, Sudarsono, Jasper Louw


RINGKASAN

Keragaman hayati dan atau plasma nutfah dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan diantaranya : 1) sebagai sumber tanaman budidaya; 2) sebagai sumber genetik perbaikan sifat-sifat tanaman melalui rekayasa genetik dalam upaya menemukan varietas-varietas unggul; dan 3) sebagai sumber bahan kimia untuk keperluan obat-obatan. Menyadari pentingnya peranan plasma nutfah dalam pembangunan di masa datang, kegiatan konservasi perlu mendapat perhatian yang lebih baik. Di kabupaten Merauke dan kabupaten Jayapura tumbuh beberapa jenis tanaman gembili yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat asli yang dikenal dengan nama lokal. Jenis-jenis gembili ini bila tanpa konservasi terancam punah di masa datang atau dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain di luar Papua. Untuk pengembangan tanaman ini dibutuhkan bibit yang cukup tersedia, untuk mendapatkan bibit koleksi perlu dilakukan. Kegiatan akan dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2008. Kegiatan menggunakan metode survei dengan mengunjungi tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman gembili dengan tujuan mengidentifikasi keanekaragaman tanaman gembili yang terdapat di kab. Jayapura dan kab. Merauke untuk ditanam di Kebun Percobaan BPTP Papua. Data yang diperoleh di analisis menggunakan analisis Deskriptif. Hasil kegiatan telah teridentifikasi sebanyak 30 aksesi gembili lokal di Merauke (Sota dan Yanggandur) dan terdapat 2 (dua) jenis gembili di Jayapura oleh masyarakat di kenal dengan sebutan yara 11 (sebelas) aksesi dan fam 5 (lima) aksesi yang merupakan plasma nutfah yang perlu di manfaatkan dan dikembangkan. Telah dilakukan penanaman baik di kebun Percobaan Merauke maupun di kebun Percobaan Jayapura. Kata

kunci : Identifikasi, Karakterisasi dan Koleksi Tanaman Gembili.


(Selengkapnya dapat hubungi kami di alamt email : bptp-papua@litbang.deptan.go.id)
PENGKAJIAN TERNAK SAPI BERBASIS KAKAO MENDUKUNG PRIMATANI DI KABUPATEN JAYAPURA

Usman, Demas Wamaer


RINGKASAN

Pengkajian ternak sapi berbasis kakao mendukung primatani dilaksanakan di Kabupaten Jayapura, dan terbagi atas dua kegiatan yaitu 1) integrasi sapi – kakao, dan 2) usahatni palawija dan pisang barangan berbasis kakao. Pengkajian ini bertujuan bertujuan untuk mendapatkan suatu model integrasi ternak sapi – kakao dan usahatani palawija, pisang barangen berbasis kakao. Metode pengkajian dilaksanakan secara On Farm Research dan melibatkan kelompok tani, penyuluh, dan peneliti. Model integrasi yang dikembangkan yakni memanfaatkan limbah kakao sebagai pakan ternak sapi dan sebaliknya memanfaatkan limbah ternak sapi sebagai pupuk organik bagi pertumbuhan tanaman kakao, sedangkan dalam model usahatani palawija, pisang barangan berbasis kakao membandingkan dua pola yakni pola introduksi dan petani. Berdasarkan hasil pengkajian pada model integrasi, data hasil pengamatan belum dapat ditampilkan dalam laporan ini, karena tahap pengamatan baru dimulai pada minggu ke 2 bulan Pebruari. Namun beberapa tahapan kegiatan telah dilaksanakan diantaranaya: identifikasi potensi wilayah, pembuatan kandang, dan penanaman hijauan pakan ternak (HPT) yaitu rumput gajah dan tanaman gamal. Pada tahap pengamatan telah dilakukan pengukuran bobot badan awal (BAW) ternak sapi yakni SP1 (120 kg), SP2 (155 kg), SP3 (160 kg), dan SP4 (135 kg). Beberapa faktor penyebab terlambatnya kegiatan diantaranya proses pencairan dana yang terlambat, rendahnya motivasi petani, dan tingginya kecemburuan sosial sesama anggota kelompok. Sedangka hasil pengkajian usahatani palawija dan pisang barangan berbasis kakao diperoleh hasil bahwa petani koperator memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp 1.886.000, hasil ini lebih rendah dibanding tahun pertama (Rp) dan tahun kedua (Rp) yang berarti pendapatan pertanaman semakin menurun. Namun hasil ini masih lebih tinggi dibanding yang diperoleh petani non koperator (Rp 1.535.000). Begitu pula nilai R/C pada pengkajian ini 1,6 lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang R/Cnya 1,7 dan juga lebih kecil dibanding pola petani (2,59). Kegiatan ini memberikan tambahan kesempatan kerja selama berlangsungnya pengkajan, dengan nilai imbalan HOK sebesar Rp 59.129 lebih tinggi dibanding upah kerja yang berkisar antara Rp 25.000 – Rp 35.000,-/HOK di lokasi studi. Dari komoditas palawija (kacang tanah dan jagung) dan pisang sebagai tanaman sela yang memberikan kontribusi terbesar adalah kacang tanah, dengan kontribusi 78,31 % terhadap pendapatan usahatani berbasis kakao. Dengan melihat sumbangan pola yang dikembangkan terhadap pendapatan petani, maka diharapkan pola ini dapat mendukung Prima Tani yang telah mencanangkan kakao sebagai komoditas utamanya.

Kata Kunci: integrasi, sapi, kakao, palawija, pisang barangan, pakan, limbah kakao, limbah ternak


(Selengkapnya dapat hubungi kami di alamt email : bptp-papua@litbang.deptan.go.id)
PENGKAJIAN WAKTU TANAM PADI SAWAH DI KABUPATEN MIMIKA

Arifuddin Kasim, A.Wahid Rauf, Martina Sri Lestari


RINGKASAN

Penelitian dilaksanakan di SP IV Kabupaten Mimika bertujuan mengatur waktu tanam yang tepat sekaligus memantau perkembangan hama dan penyakit . Rancangan petak terpisah sebagai petak utama ada tiga varietas yaitu varietas memberamo, IR 64 dan Situ Patenggang, petak kedua empat waktu tanam dengan interval waktu 25 hari, 50 hari, 75 hari dan 100 hari. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa perlakuan waktu tanam satu dapat memberikan hasil yang baik sedangkan varietas yang mampu berproduksi baik adalah varietas memberamo (5,95 t/ha).

Kata kunci : Waktu tanam, produksi padi


(Selengkapnya dapat hubungi kami di alamt email : bptp-papua@litbang.deptan.go.id)
 IMPLEMENTASI TEKNOLOGI PENGOLAHAN SAGU RAKYAT DI KABUPATEN JAYAPURA

Martina Sri Lestari, Sri Rahayu Sihombing, Yuliana H.Rumsawir, Rosita Kelyanin


RINGKASAN

Sagu (Metroxylon sp.) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting di Indonesia dan menempati urutan ke 4 setelah ubikayu, jagung dan ubijalar. Tanaman sagu tersebar di Kawasan Timur Indonesia terutama Papua, Maluku dan Sulawesi. Sagu (pati sagu) dimanfaatkan sebagai makanan pokok bagi masyarakat di Kawasan Timur Indonesia. Pati sagu diolah dalam bentuk makanan tradisional seperti papeda, kapurung dan sagu bakar. Namun semakin lama konsumsi sagu semakin menurun. Di Papua yang merupakan daerah penghasil sagu, semakin hari masyarakatnya semakin meninggalkan sagu dan beralih ke beras. Promosi mie sagu telah dilakukan dan mendapat respon yang positif yang pemerintah daerah dan masyarakat sehingga pemanfaatan sagu sebagai bahan baku mie diharapkan dapat berkembang. Sehingga peranan sagu sebagai sumber daya pangan pokok dapat meningkat. Oleh karena itu perlu dikembangkan model teknologi pengolahan sagu rakyat sagu sehingga menjadi kelembagaan yang mandiri dan berkelanjutan. Pengkajian ini dilaksanakan di kabupaten Jayapura pada bulan April sampai dengan Desember 2008. Pemilihan Kabupaten Jayapura karena sebagai sentra produksi sagu tertinggi di Papua. Penerapan model teknologi pengolahan sagu rakyat ada 3 model yaitu (I) Model teknologi pengolahan sagu binaan Dinas Tanaman Pangan Kab. Jayapura dimana kegiatan subsistem produksi dan subsistem pemasaran terpisah. (II) Model teknologi pengolahan sagu binaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua dimana kegiatan subsistem produksi dan subsistem pemasaran tidak terpisah. Dan (III) Model teknologi pengolahan sagu binaan LSM dimana kegiatan subsistem produksi dan subsistem pemasaran tidak terpisah. Hasil pengkajian implementasi teknologi pengolahan sagu rakyat di Kabupaten Jayapura menunjukan bahwa : Model Model teknologi pengolahan sagu binaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua (Model II) dimana kegiatan subsistem produksi dan subsistem pemasaran tidak terpisah dapat diterapkan pada industri rumah tangga mie sagu, karena dengan pembuatan mie sagu memberikan nilai tambah sebesar Rp. 1.060. Makanan olahan mie sagu yang paling disukai (100%) adalah mie bakso dan mie kuah ikan, kemudian mie goreng (95%) dan sphagetti sagu (75%). Promosi mie sagu masih perlu dilakukan seperti melalui ikan demikian pula penyaluran produks dapat dilakukan melalui pedagang makanan, pedagang sayuran, swalayan.

Kata kunci : Implementasi, pascapanen, pengolahan, sagu.


(Selengkapnya dapat hubungi kami di alamt email : bptp-papua@litbang.deptan.go.id)