JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

   

(Keerom, 08 Desember 2018) Inpari 42 dan  Inpari 43 GSR digelar pada lahan sawah Kp Jaifuri Distrik Skanto Kab. Keerom. Introduksi benih oleh BPTP Papua dari BB Padi Sukamandi Jawa Barat ini tumbuh dengan baik, tidak mengalami serangan hama dan penyakit yang berarti. Kedua VUB ini baru pertama kali ditanam di Kab. Keerom khususnya Distrik Skanto.

Lahan bukaan baru Kp. Jaifuri program cetak sawah pemerintah ini baru 6x ditanami padi dan masih sangat subur. Hasil PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah) menunjukan kandungan N,P dan K serta unsur mikro lainnya masih cukup tinggi dengan pH netral. Inpari 42 dan 43 ini sebenarnya tahan terhadap kondisi daya dukung lingkungan terbatas. Green Super Rice (GSR) dirancang untuk meminimalisir serangan hama dan penyakit sehingga meminimalkan penggunaan pestisida. Hal ini terbukti ketika tanaman padi di sekitar lahan UPBS banyak ditemukan serangan penyakit, namun Inpari 42 dan 43 tetap tumbuh tegar malah terlihat semakin cantik ketika padi mulai masuk fase pengisian buah. 

Abdul Hamid, petani kooperator BPTP mengakui sangat menyukai pertumbuhan dari tanaman yang dirawatnya. "Ada beberapa varietas yang anggota kelompok tani kami tanam, beberapa diantaranya seperti Ciherang, Inpari 7, dan ada varietas lokal, namun yang kami lihat pertumbuhan paling bagus adalah Inpari 42 ini" pungkasnya. 

Inpari 42 dan Inpari 43 kegiatan UPBS ini sudah memasuki 68 HST (Hari Setelah Tanam). Direncanakan akan dipanen pada 112 HST di pertengahan Januari tahun depan. Hasil panen akan dijadikan benih. Label benih ES diupayakan lulus sertifikasi BPSB Provinsi Papua. Jika estimasi minimal 1 hektar mendapatkan 6 ton benih bersih, maka target diseminasi benih UPBS terlampaui. Sebagai informasi, target PNBP UPBS telah dicover Merauke.

Semoga inpari 42 dan 43 ini senantiasa dalam keadaan pertumbuhan dan perkembangan yang baik sampai waktu panen tiba sehingga bisa menyuplai kebutuhan benih di Distrik Skanto maupun Kab. Keerom pada umumnya. (Ressa)

    

 (Padi Inpari 42 sistem tanam jajar legowo dan penanaman refugia dibandingkan dengan padi lokal)

    

 

 

 

 

(Merauke, 12 Nov 2018) 

UPBS BPTP Papua dalam perannya melakukan produksi benih saat ini telah memasuki tahap pengemasan. Benih yang dikemas yakni Inpari 36 dan Inpari 37 yang telah lolos sertifikasi BPSB Merauke pada kelas ES (benih sebar). Benih dikemas pada karung berlabel UPBS BPTP Papua dengan berat bersih 25 kg.

Dalam rangka pemenuhan target PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) BPTP Papua, UPBS BPTP Papua bekerja sama dengan Dinas Pertanian Merauke melakukan kesepakatan jual beli benih padi sebanyak 3 ton. Harga per kg yang ditetapkan sesuai PP Tarif yakni sebesar Rp 7.500 per kg. Rencananya, benih yang telah dikemas akan dibawa oleh pihak Dinas untuk kegiatan pengembangan daerah perbatasan. Berita Acara Penjualan akan ditandatangani pada pertengahan bulan nopember ini untuk selanjutnya hasil penjualan akan disetor sebagai PNBP.

Produksi benih padi varietas-varietas terbaru ini dilakukan UPBS juga dalam upaya mendukung percepatan Luas Tambah Tanam daerah perbatasan di Kab. Merauke. Selaras dengan tujuan didirikannya UPBS di BPTP sebagai upaya percepatan tersebarnya VUB Balitbangtan, semoga eksistensi UPBS BPTP Papua ini dapat membantu petani di Papua maupun stakeholder dalam penyediaan benih yang unggul dengan harga yang lebih terjangkau. Kendala jarak yang jauh dengan ongkos pengiriman yang relatif mahal, diharapkan ke depannya semoga Papua bisa mandiri dalam perbenihan. (Ressa)

     

  

 

 

Senin 29 Oktober 2018 bertempat di Ruang Pertemuan Hotel Megaria dilaksanakan Rakor UPSUS yang dirangkaikan dengan Penyerahan Benih Diseminasi UPBS yang merupakan benih hibah untuk petani dan stakeholder yang membutuhkan benih bersertifikat.

Kepala BPTP Papua, sebagai Manager UPBS menyampaikan Peran utama UPBS  adalah melakukan produksi benih kelas FS (benih dasar) dan SS (benih pokok). Varietas benih padi yang dihasilkan oleh UPBS merupakan varietas-varietas yang telah resmi dilepas, namun masih belum banyak dikenal oleh masyarakat secara luas seperti varietas Inpari, Inpara dan Inpago. Produksi benih padi varietas-varietas terbaru yang dilakukan UPBS ditujukan untuk mendukung diseminasi agar petani dapat memperoleh benih bersertifikat yang memiliki kualitas terjamin baik kemurnian, daya kecambah dan kadar air yang dipersyaratkan untuk digunakan sebagai  bahan tanam berikutnya (benih), sehingga petani dan stakeholder akan memperoleh benih yang bermutu dengan berbagai jenis varietas yang lebih unggul dibandingkan yang telah digunakan selama ini.

UPBS BPTP Papua yang berperan dalam upaya penyediaan dan perbanyakan benih padi unggul guna membantu memenuhi ketersedian benih unggul bermutu secara berkelanjutan. Adapun benih yang diserahkan dalam Rakor UPSUS adalah Varietas Inpari 36 Lanrang dan Inpari 37 Lanrang kelas ES kepada 6 Mantri Tani di 6 Distrik yaitu Distrik Merauke, Semangga, Kurik, Tanah Miring, Jagebob dan Malind. Penyerahan benih tersebut disaksikan langsung oleh Kabid TPH dan PSP Prov.  Papua,  Kadistan TPH Kab. Merauke, Dandim, BMKG, Bulog dan BPS Merauke. Bantuan ini merupakan salah satu bentuk dukungan BPTP Balitbangtan Papua dalam pencapaian target dan percepatan tanam LTT di Kab. Merauke.

  

Penyerahan Benih UPBS Varietas Inpari 36 dan 37 Lanrang kepada Mantri Tani

 

(Merauke, 04 November 2018)  BPSB Kab. Merauke menyatakan Inpari 36 Lanrang telah lulus pengujian Laboratorium dan label benihnya akan diserahkan pada Senin 05 November 2018 dengan kemasan 25kg. Sedangkan untuk Inpari 37 Lanrang kadar air 13,8% sehingga masih membutuhkan pengeringan lagi. Proses pengeringan dengan cara penjemuran benih dibawah sinar matahari telah dilaksanakan pada Kamis 1 November - Minggu 4 November 2018 dan akan diuji kembali oleh pihak BPSB. 

Dua VUB Taro Balitbangtan tersebut dipanen tanggal 15 dan 29 September 2018 pada lahan seluas 2 ha di Kp. Nggutibob Distrik Tanah Miring. Rencana Benih yang dihasilkan oleh UPBS akan dibeli oleh Dinas Pertanian Kab. Merauke untuk digunakan pada kegiatan Perbatasan Dinas Pertanian dengan harga Rp 7.500,- (sesuai PP tarif) (Sumber : Sujarwo, S.Pt)


  

(Merauke, 18 Okt 2018) Setelah lulus pemeriksaan lapangan varietas Inpari 36 Lanrang dan Inpari 37 Lanrang dilanjutkan dengan uji laboratorium yang hari ini dilakukan pengambilan sampel benih oleh Bpk Daniel yg merupakan staff BPSB Kab. Merauke. Uji sample benih dilakukan untuk mengetahui Kadar air benih, Daya tumbuh benih, dan Kemurnian benih (Persentase CVL).

Proses pengujian benih berlangsung kurang lebih 1 minggu dan apabila dinyatakan lulus untuk 3 kategori pengujian benih tersebut akan dikeluarkan label berdasarkan berat kemasan benih yang digunakan. (Sujarwo)