JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Tanah Papua memiliki keanekaragaman hayati yang belum tereksplorasi dan terdokumentasi dengan baik. Salah satu keanekaragaman hayati yang belum terdokumentasi adalah Anggur Papua. Menurut laporan KKN UNIPA Manokwari tahun 2016, Anggur Papua memiliki sebaran di kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo, Kabupaten Waropen dan Yapen. Karakterisasi dan inventarisasi tumbuhan ini perlu dilakukan untuk kemudian diproteksi dan ditetapkan sebagai plasma nutfah Papua.

Buah Merah (P. conoideus) termasuk familia Pandanaceae dan merupakan tumbuhan endemik Papua yang tersebar sampai Papua New Guinea dan dapat ditemukan dari dataran rendah sampai tinggi. Diperkirakan lebih dari 30 kultivar pandan buah dapat dijumpai di Papua, masing-masing dengan nama yang berbeda tiap karakter buah dan tiap daerah. Misalnya, buah merah asal kecamatan Kelila Wamena Papua mempunyai nama lokal yang berbeda yang merujuk pada perbedaan ukuran, warna buah, warna daun, dan rasa, seperti maler, ugi, oakelu, kenen, wona, kuambir, gepe, barugum, magari, werene dan baga. Meski demikian, secara garis besar hanya empat kultivar yang banyak dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis, yaitu kultivar merah panjang, merah pendek, cokelat dan kuning.

Anggrek

Anggrek (Orchidaceae) merupakan suku terbesar dari tumbuhan berbunga (Huynh et al. 2009), yang terdiri dari hampir 25. 000 spesies (Gravendeel et al. 2004). Berdasarkan tempat tumbuhnya, Soetopo (2009) menggolongkan anggrek menjadi anggrek epifit dan anggrek terresterial. Anggrek epifit merupakan anggrek yang tumbuhnya menempel pada tumbuhan lain, namun tidak merugikan tumbuhan yang ditumpanginya contohnya genus Dendrobium, Bulbophyllum, dan Coelogyne. Sedangkan anggrek terresterial adalah anggrek yang tumbuhnya di tanah, contohnya genus Spathoglottis, Calanthe, dan Paphiope-dilum. Lebih dari 70% dari semua spesies anggrek adalah epifit (Gravendeel et al. 2004). Anggota dari suku ini dapat ditemukan di seluruh dunia, kecuali padang pasir yang kering dan daerah yang selalu tertutup salju. Sebagian besar keragamannya terpusat dikawasan tropis dan subtropis dengan sebaran dari dataran rendah sampai tinggi (Widiastoety et al. 1998; Sandra 2002).

Matoa merupakan tanaman buah yang menjadi identitas flora Papua, yang tersebar hampir di setiap daerah, diantaranya: dataran Seko (Jayapura), Wondoswaar-pulau Weoswar, Anjai Kebar, Warmare, Armina-Bintuni, Ransiki, Pami-Nuni (Manokwari), Samabusa-Nabire, dan pulau Yapen (Karyaatmaja dan Suripatty, 1997). Matoa dikenal dengan berbagai nama, yaitu Kasai (Kalimantan Utara, Malaysia, Indonesia), Malugai (Philipina), dan Taun (Papua New Guinea). Sedangkan nama daerah adalah Kasai, Kongkir, Kungkil, Ganggo, Lauteneng, Pakam (Sumatera); Galunggung, Jampango, Kasei, Landur (Kalimantan); Kase, Landung, Nautu, Tawa, Wusel (Sulawesi); Jagir, Leungsir, Sapen (Jawa); Hatobu, Matoa, Motoa, Loto, Ngaa, Tawan (Maluku); Iseh, Kauna, Keba, Maa, Muni (Nusa Tenggara); Ihi, Mendek, Mohui, Senai, Tawa, Tawang (Papua) (Dinas Kehutanan DATI I Irian Jaya, 1976 dalam Rumayomi, 2003).

Plasma nutfah merupakan bahan genetik yang memiliki nilai guna, baik yang secara nyata maupun yang masih berupa potensi. Keanekaragaman plasma nutfah yang tinggi membuka lebih lebar peluang untuk mencari dan memanfaatkan sumber-sumber gen yang penting yang ada untuk program pemuliaan. Pengelolaan plasma nutfah yang berupa kegiatan inventarisasi (koleksi), pendataan (dokumentasi) dan pelestarian (konservasi) merupakan bentuk upaya untuk mengurangi dan mencegah erosi genetik yang terjadi karena hilangnya habitat, bencana alam, kebakaran, dan semakin intensifnya penggunaan varietas unggul. Selanjutnya, meningkatkan nilai guna dari materi plasma nutfah dapat diawali dengan identifikasi karakter-karakter penting melalui kegiatan karakterisasi dan evaluasi secara sistematis dan berkelanjutan sehingga memudahkan upaya pemanfaatannya.