BPTP Gelar Rakor UPSUS Papua Jilid 2

Category: Berita Written by Administrator Hits: 192

Merauke - BPTP Papua sebagai penanggungjawab UPSUS Pajale Prov. Papua menggelar rapat koordinasi UPSUS sebagai evaluasi dan percepatan LTT Pajale Provinsi Papua di Merauke. Rakor ini diselenggarakan sebagai tindaklanjut rakor tingkat nasional dan evaluasi pelaksanaan LTT yang dirumuskan saat rakor perdana (http://papua.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita1/750-rapat-koordinasi-ltt-dan-percepatan-tanam-padi-provinsi-papua)

Rakor dihadiri oleh Kadis Pertanian Papua, LO UPSUS Papua dari Ditjen TP Kementan, Kodim 1707 Merauke, Mantri Tani wilayah KSA Merauke serta Kadis dan perwakilan dari setiap Kabupaten wilayah UPSUS. Turut hadir dalam acara rakor, Kepala BMKG Merauke, BPS, Karantina Pertanian Merauke serta seluruh staf IP2TP Merauke dan peneliti penyuluh BPTP Papua.

Berdasarkan data BPS dan Pusdatin Kementan diketahui bahwa LTT Padi Papua periode Okt-Agust 18/19 adalah seluas 60.936 ha. Hasil ini mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya Okt-Agust 17/18 yang mencatat angka 59.905 ha. Hasil positif ini diharapkan dapat berlanjut di bulan September - Oktober dengan beban LTT  masing-masing 500 dan 3.039 ha. Sedangkan untuk jagung, Papua mendapatkan target LTT 2.100 ha pada bulan september dan 867 ha di bulan oktober.

Penanggungjawab UPSUS Papua, Dr. Ir. Muhammad Thamrin, M.Si sangat menekankan peranan penting Merauke dalam pencapaian LTT Papua.
"Daerah lain boleh merah (dibawah target), asalkan jangan dengan Merauke"
ucap Ka.BPTP Papua ini seraya memberikan apresiasi dan penghargaan bagi seluruh insan pertanian terutama petani Merauke atas pencapaian ini. Diketahui bahwa lebih dari 80% luas lahan baku sawah Papua berada di Merauke sehingga LTT Papua sangat bergantung dengan LTT Merauke.

Kepala Dinas Pertanian Papua, Ir. Semuel Siriwa, M.Si yang memandu jalannya rapat kemudian menetapkan LTT pada masing-masing Kab/Kota bahkan sampai di tingkat distrik di kab. Merauke. Berdasarkan informasi BMKG terkait curah hujan yang disampaikan Sulaiman,S.Si diprediksi bahwa puncak musim gaduh (kemarau) akan terjadi di September dan akan berlanjut sampai dengan oktober. Merauke diperkirakan akan memasuki musim rendeng (hujan) pada desember dasarian II hingga januari dasarian I.

Mantri Tani 6 wilayah KSA (Tanah Miring, Semangga, Kurik, Jagebob, Malind dan Merauke) saat ditantang Siriwa menyanggupi realisasi LTT 500 ha di bulan September. Beberapa tempat masih memiliki kantong air sehingga petani masih melakukan penanaman di beberapa lokasi. Bahkan realisasi sampai tanggal 05/09, Merauke sudah menanam seluas hampir 200 ha. Selain itu, akan dilakukan pula pengembangan padi varietas kering oleh Dinas TPH dan Perkebunan Merauke. Namun, dikarenakan Merauke akan mengalami kekeringan dalam beberapa bulan kedepan, diperlukan antisipasi terhadap kegagalan panen. Target yang tinggi di bulan Oktober sebagian akan dibebankan kepada wilayah utara diantaranya Nabire, Keerom dan Kab/Kota Jayapura.

Ditjen TP diwakili LO UPSUS Papua Memed Jamhari, S.ST dalam pemaparannya mengatakan bahwa data Papua sampai Agustus 2019 meningkat dari tahun sebelumnya sehingga merupakan salah satu dari empat provinsi se-Indonesia dengan capaian LTT baik disaat beberapa daerah lain mengalami penurunan.

Mantri tani Semangga, Ismail mengatakan bahwa selain masalah air, benih pun tak luput dari sorotan. Secara khusus, Inpari 36 Lanrang dipesan Ismail kepada BPTP. Benih inpari 36 yang diberikan BPTP menurutnya dapat menghasilkan sampai dengan 10 ton per hektar dengan sistem tanam jajar legowo dan penggunaan pupuk berimbang. Hal ini menandakan bahwa introduksi VUB Padi Balitbangtan yang dilakukan BPTP Papua direspon hangat oleh petani penyuluh setempat sehingga dapat memacu LTT.

Beberapa masukan dan pembahasan menarik di luar LTT seputar pertanian Papua turut dibahas dalam rakor. Stakeholder banyak memberikan input yang membangun diantaranya Kadis Pertanian Keerom yang meminta restorasi lahan sawit menjadi areal pencetakan sawah baru di Arso 3.

Selain itu, Kepala SKP Kelas I Merauke, Muhammad Musdar, S.IP., MM juga menyatakan kesiap siagaan seluruh karantinawan dalam mendukung upaya swasembada pangan dengan orientasi ekspor ke negara tetangga (PNG dan negara pasifik/oceania). Sejalan dengan gerakan Agro Gemilang yang digagas Barantan, upaya ekspor komoditas pangan ke negara tetangga, hanya perlu dilakukan pendekatan politik karena secara produksi, Merauke sudah sangat melimpah ruah hasil pertaniannya. 

 

Petani harus diberikan stimulus agar semangat dalam menanam. Sinergitas pemerintah pusat dan pemda sangat diperlukan agar bantuan yang diberikan dapat tepat sasaran dan tepat guna. Melalui program UPSUS, Kementan dengan dukungan TNI dan seluruh pihak terkait bersama mewujudkan kedaulatan pangan. (Ressa RnD)