JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Koordinasi Pengembangan Beras Analog Mix Sagu-Buah Merah dan Daun Kelor

Kampus Uncen, Jayapura - Kebutuhan beras yang makin meningkat mendorong dilakukannya kegiatan untuk menghasilkan produk pangan alternatif seperti beras analog. Beras analog adalah beras yang diolah dari bahan non-padi yang memiliki kandungan karbohidrat hampir sama atau lebih dari beras.

Sagu yang merupakan makanan pokok masyarakat Papua dapat dikembangkan menjadi beras analog (sagu dibentuk butiran beras dan bila dimasak serupa nasi).
Inovasi teknologi Beras Analog Mix antara Sagu buah merah dan daun kelor ini merupakan buah karya inovasi Mahasiwa FKM Uncen yang telah menjuarai Lomba Parade Cinta Tanah Air (PCTA) olahan pangan lokal Papua yang diselenggarakan oleh Kemenhan RI dalam rangka Bela Negara di Bandung tahun 2018 silam .

Koordinasi ini dimotori oleh Kolonel (Laut) Muhaimin dari Kemenhan RI dan didampingi oleh Ka. BPTP Papua. Dr. Ir. Muhammad Thamrin, M.Si, Ka. Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura drh. Muhlis Natsir, M.Kes dan  dan perwakilan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prov. Papua dan Balitbangda Prov. Papua.
Tim koordinasi ini diterima langsung oleh Rektor Uncen Dr. Ir. Apolo Safanpo,ST,MT. Beliau menyampaikan bahwa Universitas Cenderawasih yang berdiri sejak tahun 1962 merupakan garda terdepan di Papua. Setiap Dosen wajib menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Mengajar, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. “Riset tidak berhenti sebagai dokumen saja tapi diharapkan sebagai inovasi yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas sehingga pihak PT pun butuh dukungan dari pihak lain seperti Pemerintah Daerah, Kementerian Pertanian, Kemenhumham sebagai bagian kolaborasi dalam bentuk kerjasama” ungkap Rektor dalam pertemuan tersebut.
Menurut Muhaimin, Inovasi teknologi Beras Analog Mix antara Sagu buah merah dan daun kelor merupakan inovasi yang sangat baik dan sangat bermanfaat sebagai sumbangan bahan pangan untuk masyarakat sehingga inovasi pangan ini dapat berkembang lebih luas lagi apalagi bahan yang digunakan semua ada di Papua.

Dr. Muhammad Thamrin menyampaikan bahwa Balitbangtan melalui BPTP di daerah sangat mendukung program pangan alternatif. BPTP Papua saat ini sedang melakukan pengkajian budidaya dan sosial ekonomi sagu rakyat di Jayapura. Harapannya, masyarakat dapat kembali mengandalkan sagu sebagai konsumsi pangan dan sumber penghasilan ekonomi keluarga melalui olahan pangan lokal.

Drs. I Made Budi M.S. sebagai ahli gizi dan dosen FMIPA Universitas Cendrawasih, yang mempuyai ide riset tentang beras analog ini banyak memberikan penjelasan tentang bahan tanaman yang yang menjadi campuran (mix) pada pembuatan beras analog. Sebagai contoh sagu memiliki kandungan amilopektin tinggi 75% sehingga sangat baik untuk penderita diabetes, buah merah mengandung antioksidan, karoten, betakaroten dan tokoferol, di samping beberapa zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh, seperti asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, omega 3 dan omega 9, yang semuanya merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Sedangkan daun kelor kering bubuk per 100 gram mengandung 205 kalori energi; 27,1 gram protein; 2,3 gram lemak; 38,2 gram karbohidrat; dan 19,2 gram serat. Peneliti dan akademisi pangan lokal tersebut menambahkan bahwa daun kelor saat ini sangat populer di manca negara karena khasiatnya untuk kesehatan. Diharapkan dengan beras analog mix antara sagu, daun kelor dan buah merah ini dapat memberikan manfaat “komplit” baik untuk program pemberian makanan tambahan maupun bermanfaat untuk kesehatan yaitu mencegah/mengobati diabetes. Pada koordinasi tersebut diharapkan kedepannya tidak hanya sagu yang diolah untuk pangan alternatif namun pada komodit lainnya seperti Gembili dan Ubi jalar. Diskusi sore itupun diakhiri dengan kesepakatan untuk lebih dahulu mendaftarkan paten beras analog tersebut ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI. (Yuliana, Merlin).