JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Bimtek Pendampingan VUB Padi Dukung Program LPWP dan Mandiri Benih

Koya Barat – Kota Jayapura. Geliat ekspor komoditas pertanian yang digaungkan Kementerian Pertanian sampai di ujung timur Indonesia. Jauh hari sebelum Badan Karantina Pertanian menggulirkan program Agro Gemilang (Ayo Galakkan Ekspor Generasi Milenial Bangsa) pada awal tahun 2019, Balitbangtan melalui BPTP Papua dan BPTP lain di wilayah perbatasan RI pada 2017 sudah membuat pondasi menguatkan program terkait dalam bentuk kegiatan Lumbung Pangan Wilayah Perbatasan (LPWP). Konsep bioindustri diterapkan dengan harapan dapat menjadi komoditas ekspor ke negara tetangga.

Kenangan ekspor perdana ke PNG oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Merauke selalu menjadi penyemangat bagi Papua untuk menjadi  pemasok pangan Negara-negara di Oceania - Pasifik.

Tahun ini, kegiatan LPWP pun sudah memasuki tahun ke-3 dalam pelaksanaannya. Merauke, Boven Digoel, Peg. Bintang dan Keerom , dan Kota Jayapura adalah tempat dilaksanakannya kegiatan LPWP karena letak geografis Kab/Kota ini yang berbatasan langsung dengan Negara Papua New Guinea (PNG). Dari sisi pengenalan teknologi, dari ke-5 kab/kota tersebut, pendampingan terhadap petani Kota Jayapura relatif lebih mudah dibandingkan daerah perbatasan lain. Selain jarak yang relatif lebih dekat, kultur masyarakat Kota juga relatif lebih mudah mengadopsi teknologi baru yang dibawa BPTP. Melalui kegiatan ini pula, diseminasi VUB Balitbangtan semakin deras dilakukan dengan cakupan wilayah yang semakin luas. Terhitung lebih dari 15 VUB telah diujicoba dalam kegiatan ini termasuk Inpari 43.

  

Bertempat di ruang pertemuan STA Dinas Pertanian Kota Jayapura, hari ini Rabu (07/08/19) BPTP menggelar Bimbingan Teknis dengan mengundang petani dan penyuluh Koya Barat, Kota Jayapura. Bimtek bertema Pendampingan VUB Padi Sawah mendukung LPWP dan berjalan beriringan dengan pendampingan perbenihan pada kegiatan SL Mandiri Benih.

Dalam kesempatan ini, Kepala Balai, Dr. M. Thamrin sebagai penanggung jawab kegiatan RDHP Perbatasan dan SL Mandiri Benih menyampaikan melihat kesejahteraan petani trans dan pesatnya pembangunan di kawasan Agrominapolitan Koya – Kota Jayapura. Thamrin menghimbau agar hendaknya Kelota yang ada di Koya dapat mengajak petani lokal untuk terlibat aktif dalam usaha tani. Hal ini pun dirasa dapat memberikan nilai manfaat lebih dalam kultur sosial masyarakat disana. Terlebih, program Presiden RI untuk penguatan dan pengembangan SDM juga menyentuh sektor pertanian.

  

Liaison officer (LO) Kota Jayapura, Dr. Batseba Tiro memandu acara bimtek yang menghadirkan pakar perbenihan  Isak Wally, SP., MM dari BPSB Prov. Papua dan pakar hama penyakit, Merlin K. Rumbarar, SP., M.Sc peneliti BPTP Papua. Materi yang disampaikan terkait pengawasan dan sertifikasi benih. Isak Wally secara rinci memberikan alur sertifikasi benih kepada petani penangkar agar dapat diikuti sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sementara itu, Merlin memberikan materi terkait hama penyakit utama tanaman padi. Alumni Gent University Belgia ini menanggapi berbagai pertanyaan dan keluhan petani dalam berbudidaya terutama terkait penyakit tungro bersama Pj. Mandiri Benih Kota Jayapura, Frans Palobo, M.Si. Dalam mengatasi tungro ini Balitbangtan telah mampu menghasilkan VUB yang tahan tungro seperti Inpari 36 dan inpari 37 produksi Loka Penelitian Tanaman Tungro. Namun kecenderungan masyarakat masih menggunakan varietas lama seperti ciherang, mekongga dsb yang tidak memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro.  Ditambah pula dengan fakta bahwa Kota Jayapura yang sudah menerapkan IP 300 dalam artian menanam sepanjang tahun sehingga tidak memutus siklus hidup vector penyakit tungro yakni wereng hijau.

  

Peserta bimtek juga diajak untuk mengunjungi denfarm  LPWP dan SL Mandiri Benih . Padi yang telah ditanam sejak awal bulan Mei ini sudah waktunya di panen. Petani disini seperti kebanyakan sentra padi di Papua (Nabire, Merauke) sudah menggunakan Combine Harvester. Sambil melihat CH memanen padi, di pematang sawah, petani penyuluh bersama peneliti BPTP dan BPSB benar-benar mempraktikan Sekolah Lapang. Diskusi-diskusi dibangun dengan santai sambil mengamati pertumbuhan padi. Demfarm padi ini pun tumbuh baik dengan gejala serangan yang tidak melebihi ambang batas. Berdasarkan hasil ubinan, didapatkan hasil 6,5 kg GKP dari var. inpago 11 dan 5,8 kg GKP dari inpago 12. (Ressa RnD)