JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Bumikan Inotek Balitbangtan Melalui Pendekatan Sosbud

(Sentani, 29 Juni 2019). Budaya adat Papua sudah sangat dikenal dari sejak berdirinya propinsi papua dan sudah sangat kental dan mengakar di masyarakat. Hal ini pula yang menjadi dasar warga papua dalam melakukan setiap event apapun.

Ondoafi sebuah panggilan untuk kepala suku, gelar untuk ketua adat, atau yang dituakan. Warga adat sangat patuh terhadap pemimpin adatnya.

Hal ini tercermin dalam sistem demokrasi kita melalui pemilu. Di beberapa daerah di pegunungan misalnya, dengan aksesibilitas yang masih sangat minim, disana masih mengenal "sistem noken", dimana pemilihan eksekutif maupun legislatif diwakili oleh kepala suku. Kepatuhan masyarakat terhadap tokoh adat dan tokoh agama ini dimanfaatkan BPTP untuk lebih mengenalkan inovasi teknologi (inotek) litbang agar dapat diterima masyarakat dengan baik.

   

Bertempat di Helebhey Obhe (Pendopo Kampung Sereh), BPTP Balitbangtan Papua menggelar Bimbingan Teknis dan Pameran Inovasi Teknologi Pertanian dalam rangka mempercepat inovasi teknologi hasil balitbangtan melalui pendekatan sosial budaya. Dihadiri oleh lebih dari 100 masyarakat kampung Sereh, Kepala BPTP Balitbangtan Papua, Dr. Muhammad Thamrin didampingi pemateri Dr. Albert Soplanit dan Ir. Sri Sihombing menyampaikan fokus kegiatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan partisipasi OAP (Orang Asli Papua) dalam pembangunan pertanian di Papua. 

Pada kesempatan tersebut turut hadir para kepala suku, dan kepala kampung (Kades/kepala suku besar) kampung sereh. Selain itu pula hadir tokoh agama (pendeta), kelompok tani dan Kepala BPP se kabupaten Jayapura.

Antusiasme peserta yang hadir menjadi tolak ukur bahwa diterimanya pendekatan model jemput bola yang digagas kepala BPTP Balitbangtan Papua di pendopo kampung. Dr. Thamrin menyampaikan bahwa BPTP selama ini telah mendiseminasikan inovasi teknologi melalui peneliti, penyuluh. Namun hal itu dirasa masih kurang lengkap sehingga perlu melibatkan tokoh adat dan tokoh agama melalui pendekatan sosial budaya agar apa yang disampaikan bisa dapat dikerjakan melalui komando kepemimpinan kepala suku.

Gayung bersambut kepala Kampung Sereh, Steven Eluay, SE mengungkapkan bahwa sudah saatnya petani maupun warga yang bergelut di bidang pertanian lebih banyak menerima inovasi teknologi pertanian terkini yang mampu meningkatkan produksi dan pendapatannya agar mampu bersaing di era pertanian 4.0. Kepala suku (tokoh adat) kampung Sereh mengapresiasi dilibatkannya masyarakat adat dalam pembangunan pertanian ini. "Dari dulu saya sudah mengenal BPTP. Dulu namanya masih BIP (Balai Informasi Pertanian) di Yahim". ujarnya. "Semoga BPTP ini selalu dapat dengan intens memberikan inovasi teknologi pertanian yang sangat bermanfaat bagi kami masyarakat kampung". pungkas beliau.

  

Kegiatan diramaikan dengan kunjungan peserta ke stand display olahan pangan lokal. Peserta dapat mencicipi langsung makanan yang tersedia. Antusiasme anak-anak tertuju pada ice cream yang dihidangkan dengan berbahan dasar ubi jalar. Selain itu, ada olahan berbahan dasar sagu yang dibuar kembang goyang, biskuit, jala-jala sagu dengan kuah kuning, puding dan bronis sagu. Display olahan pangan yang berbahan dasar komoditas lokal seperti sagu dan ubi jalar ini diharapkan dapat memicu kreatifitas pengolahan pasca panen dari kelompok tani sehingga meningkatkan pendapatan petani OAP. Sebelumnya, bimtek untuk pembuatan aneka makanan yang berasal dari ubijalar dan sagu telah dilaksanakan di kampung sereh yang diikuti KWT (kelompok wanita tani) Reinyai. 

 

Selain itu, pameran inovasi teknologi ini menampilkan berbagai inovasi teknologi balitbangtan melalui media cetak seperti leaflet, buku 600 inovasi teknologi pertanian, teknologi perbenihan sagu, jeruk pepaya, padi, jagung, kedelai hingga budidaya ternak ayam kampung unggul balitbangtan serta pengolahan hasil berbahan dasar sagu dan ubijalar.

Program perubahan yang digagas Ka. BPTP ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi OAP dalam bidang pertanian. Di beberapa daerah wilayah pertanian yang mayoritas merupakan daerah transmigran telah diprogramkan agar kelompok dapat membina OAP untuk dapat bersama-sama menjalankan usaha tani. Pendekatan melalui keterlibatan tokoh adat ini pun dimaksudkan untuk akselerasi diseminasi dan dalam rangka menggugah dan mengajak semua elemen adat agar peduli terhadap kekayaan alamnya khususnya dalam bidang pertanian adalah sagu dan SDG (sumber daya genetik) lainnya.

"Ke depannya kami akan terus meningkatkan dan mengembangkan kegiatan ini ke kampung-kampung yang lain di seluruh Papua". pungkas Thamrin.

(M. Nur, RnD)