JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sulitnya Panen Anggur Papua

 

(Jumat, 28 September 2018) Anggur Papua (Sararanga sinuosa) merupakan tanaman lokal yang eksotis. Tanaman ini merupakan tumbuhan tidak berkayu, umumnya sangat menyerupai tumbuhan pandan (Pandanaceae). Jadi penamaan tanaman ini sebagai anggur hanya merupakan istilah saja karena bukan termasuk kelompok tanaman anggur sebenarnya (Vitis vinivera). Disebut anggur karena bentuk buah tanaman ini merupakan berry yang mirip dengan buah anggur.

Bentuk fenotype tanaman anggur Papua dan tandan buah juga mirip dengan pinang (Aracaceae), tanaman yang sangat popular di Papua. Pada kegiatan sebelumnya, team SDG BPTP Papua mengeksplorasi anggur Papua di daerah Demta, daerah pesisir utara, sekitar 4 jam perjalanan menggunakan mobil dari Sentani. Diduga tanaman terebut banyak di daerah pesisir utara.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, tanaman anggur Papua juga terdapat di dekat Sentani yaitu daerah Sabron, sekitar 45 menit perjalanan menggunakan mobil. Pada hari Jum’at tanggal 28 September 2018, team (Mariana, Frans, Adnan, Ida dan Tiwi) SDG menuju lokasi untuk mendata dan memanen anggur Papua.

Di tengah cuaca yang cukup panas, lahan berbukit dan bersemak, tim SDG berusaha memanen anggur Papua. Tingkat kesulitan memanen anggur Papua tanpa menebang pohon cukup sulit. Batang tanaman berduri kecil sehingga sulit untuk dipanjat. Tanaman juga cukup tinggi sekitar 7m. Dengan menggunakan tangga dan potongan bambu yang diperoleh dari sekitar lahan yang digunakan untuk memanjat pohon, serta tali untuk menurunkan buah agar tidak hancur jika terjatuh ke bawah.

Setelah bersusah payah selama beberapa saat, sampailah salah satu anggota tim yaitu Tiwi di atas pohon yang bercabang tiga. Di luar dugaan, di percabangan pohon tertimbun pelepah dan daun yang sudah rontok dan menjadi sarang lebah. Untuk menghindari risiko merusak sarang dan serangan lebah yang dapat membahayakan proses panen, kegiatan panen anggur Papua dihentikan pada lokasi tersebut. Tandan anggur Papua berwarna merah yang siap panen gagal diambil. Tetapi tandan kecil di bagian bawah pohon bisa dipanen, serta bibit anggur Papua dapat diambil untuk dibudidayakan lebih lanjut.

Untuk mengatasi rintangan ini, tim SDG berencana untuk mengembangkan alat panen anggur Papua yang mudah dan murah sehingga dapat diterapkan oleh petani. Tanaman ini akan sulit dikembangkan lebih lanjut jika teknik panen masih mengalami kendala. Potensi pengembangan buah pun terus dilakukan, diantaranya diolah menjadi selai dan manisan anggur Papua. Melalui pengolahan buah menjadi produk jadi, anggur Papua diharapkan menjadi salah satu produk khas Papua yang dapat dijual dan memberikan manfaat secara ekonomi bagi petani. (Adnan)