JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Menguak Potensi Gembili (Dioscorea esculenta) di Kampung Kuipons "Mama Yuliana Giay Penggerak Tanam Gembili Pangan Masa Depan"

 

Perjalanan menuju Kampung Kuipons Distrik Nimboran Jayapura memerlukan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan. Meskipun di guyur hujan namun tidak mematahkan semangat tim BPTP Balitbangtan Papua untuk ikut bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) yang panen bibit gembili atau oleh masyarakat dikenal dengan nama syafu.

Tim diterima oleh Mama Giay ketua KWT Sigoro (Sinar Gotong Royong) dan anggota didampingi oleh PPL setempat, ditandai dengan pengalungan noken (wadah mengisi hasil panen) hasil rajutan dari anggota KWT. Dilanjutkan dengan ramah tamah, perbincangan dan ikut panen bersama gembili sebagai pangan lokal masyarakat di Kampung Kuipons. Kuipons adalah kampung induk dari 5 kampung (pasca pemekaran wilayah), yaitu Kampung Kuineme, Kampung Pobaim, Kampung Sarmai Krang, Kampung Nimbo Sari dan Kampung Nimbokrang. Berbincang dengan pelaku pertanaman gembili mama Yuliana Giay di Kampung Kuipons, menuturkan gembili sejak dulu merupakan makanan pokok dalam adat karena yang melakukan pertanaman gembili adalah Kepala Suku Besar atau Iram.  Gembili juga sebagai salah satu atribut pada saat pelantikan atau pergantian Kepala Suku. Selain itu digunakan sebagai hantaran pada saat anak perempuan Kepala Suku menikah. Gembili merupakan salah satu sumber karbohidrat dan memegang peranan penting dalam tatanan adat budaya ujar mama Giay. 

Seiring berjalannya waktu gembili bukan lagi menjadi tanaman adat karena sudah banyak ditanam masyarakat dan dijual. Sejak tahun 2016 mama Giay dengan anggotanya mulai menanam gembili karena jenis tanaman ini mulai berkurang dan mengarah pada kepunahan. Jenis gembili dibedakan menjadi 2 jenis yaitu (1) Jenis ubi kecil (naning); dan (2) ubi besar (isyo). Jenis-jenis ubi yang masih dipertahankan/di tanam adalah:

  1. Gembili (Naning) Kbue; warna daging ungu bentuk umbi bulat mirip lonceng.
  2. Gembili (Naning) putih panjang; warna daging putih, bentuk umbi lonjong
  3. Gembili (Naning) Walu Naning: saat berkunjung umbi tidak ada.
  4. Ubi Kelapa (Isyo) Brengsye Putih; warna daging putih, bentuk bulat tak beraturan
  5. Ubi Kelapa (Isyo) Brengsye Merah; warna daging kuning bergaris ungu, bentuk ubi bulat tak beraturan.

Cara budi daya:

  1. Pola Tanam; (1) menanam 1 jenis tanaman (gembili); (2) menanam beberapa jenis tanaman seperti pisang - ubi jalar - sayur lilin - gembili.
  2. Cara tanam: a) tanam melintang; b) tanam tegak lurus dan c) tanam dengan cara ubi dipotong menjadi beberapa bagian. Waktu tanam pada musim panas.

1. Pembibitan

Bahan tanaman (bibit) yang di tanam di ambil dari umbi,  diambil pada bagian atas (pangkal batang) atau menggunakan umbi secara utuh. Bagian umbi yang di potong di taburi abu tungku. Tujuan ditaburi abu tungku untuk menghindari pembusukan umbi juga mengurangi hama seperti semut dan ulat tanah.  Ubi di tanam setelah 2 minggu.

2. Panen

 Masyarakat mengenal masa panen bibit dan masa panen raya

  • Panen bibit di lakukan untuk mengambil umbi persiapan menjadi bibit atau perbanyakan bibit
  • Panen raya dilakukan setelah lahan atau kebun ditanami gembili secara merata. Hasilnya untuk di makan. Waktu panen 12 bulan dengan cirri-ciri daun berwarna kuning kecoklatan

 Pengetahuan lokal masyarakat tentang perbanyakan dan persiapan bibit gembili di lakukan saat panen. Hasil panen gembili di konsumsi dan di jual. Penjualan Ubi (gembili dan ubi keapa) ubi gembili  1 tumpuk Rp 50.000,- dan ubi kelapa 1 tumpuk Rp 100.00, Namun kami juga menjual ubi  siap saji, ubi ukuran kecil @ Rp 5.000,-;  ubi ukuran besar @  Rp. 10.000,- tutur mama Giay. Gembilii biasa di jual dikedai depan rumah dan pasar sentral Sentani. Agar tidak penasaran Tim BPTP diajak ke kebun untuk panen naming dan isyo. Jumlah umbi naming perumpun 30 – 56 umbi. Jumlah umbi isyo 1 – 2 umbi perumpun. Tim juga di ajar cara panen umbi naming menurut cara petani. Menjadi pertanyaan kalau panen raya dan ubi melimpah mau kami buat apa ?? “kata mama Giay”.

 

          

 

Pernyataan mama Giay ditanggapi langsung oleh Ka. BPTP Balitbangtan Papua bahwa ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk BPTP menerapkan teknologi inovasi Balitbangtan berupa olahan hasil-hasil pertanian pangan lokal ubi gembili. Saya rasa perlu untuk membuat pengembangan dan inovasi produk pengolahan umbi gembili (dioscorea) dengan tujuan menghasilkan makanan fungsional berbasis gembili.  Karena keunggulannya yang mudah dicerna, dapat diolah menjadi produk karbohidrat tinggi lainnya. Produk olahan yang dapat dibuat dari ubi gembili adalah keripik. Bila ditepungkan gembili dapat di olah menjadi berbagai olahan karena tepung gembili memiliki karakteristik pendukung untuk dijadikan produk-produk seperti kue, puding, roti dan cookies. Hal yang terpenting dalam pengembangan produk gembili adalah proses pengolahan yang dirancang harus mampu mempertahankan kandungan nutrisi yang berharga. Peluang aplikasi pengolahan gembili seluas pemanfaatan bahan pangan sumber pati lain. Sifat fungsional lain produk mencakup efek hipoglisemik untuk penderita diabetes. Mengakhiri perbincangan mama Giay berterimakasih kepada Tim BPTP Balitbangtan Papua yang telah berkunjung dan mau bersama – sama dengan masyarakat melihat potensi pangan lokal yang kemudian akan dikembangkan  untuk meningkatkan peran aneka ubi potensial juga sekaligus mendorong proses bioindustrialisasi. Masyarakat kampung akan didorong untuk mengenal, memanfaatkan, dan mengolah ubi gembili  menjadi bahan pangan masa depan. (Mariana Ondikeleuw).