JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

 

Pada tanggal 9 dan 10 November 2018 telah dilakukan kegiatan pendampingan Budidaya Organik Kopi Arabika pada Kelompok Tani  Alua Marian Kampung Waga-Waga Distrik Kurulu dan Kelompok Tani Okesa Kampung Yagara Distrik Walesi Kabupaten Wamena. Kegiatan Budidaya Kopi Arabika Ramah Lingkungan dibiayai Badan Litbang Pertanian melalui Kegiatan KP4S dengan PJ kegiatan Dr. Ir.  Martina Sri Lestari, MP. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jayawijaya John Hendri Tetelepta, SP, M.Si,  luas lahan Perkebunan Kopi di Jayawijaya hingga tahun 2017 ada seluas  1910 ha tersebar di 24 Distrik seperti di Walesi, Kurulu, dan Pyramid yang merupakan daerah potensial perkembangannya.  Namun produksi kopi Wamena sejak tahun 2017 menurun akibat tanaman yang sudah tua dan tidak terpelihara baik serta serangan hama dan penyakit, sehingga diperlukan sentuhan inovasi teknologi ramah lingkungan seperti peremajaan tanaman dan pengendalian hama dan penyakit.

Pendampingan dan bimtek sangat diperlukan oleh petani. Pendampingan ini bertujuan untuk melakukan pendampingan teknologi organik, dan meningkatkan kapasitas petani melalui bimtek lapangan berbasis kopi organik. Kegiatan didampingi oleh Kasie Perbenihan Perkebunan Sahrul, SP langsung dilakukan dilahan petani kopi dengan menjelaskan dan mengajarkan cara budidaya organik kopi arabika meliputi sanitasi kebun, pemangkasan tanaman kopi dan naungan, pembuatan rorak, cara pembuatan pupuk organik dari sisa-sisa tanaman, cara pupuk organik dan pemasangan feromon sex PBKo. Hasil pengamatan dilapangan kebun kopi milik petani kurang dilakukan perawatan dan pemiliharaan terutama pemangkasan sehingga kebun menjadi lembab dan kotor penuh dengan rumput atau gulma. Hasil pemantauan serangan hama PBKo terlihat bahwa dari 100 biji kopi 20-43% terserang hama PBKo. Melalui pendampingan budidaya kopi  organik diharapkan mampu meningkatkan kesadaran petani pentingnya perawatan tanaman kopi sehingga produksi biji kopi yang diperoleh melimpah (Septi dan Ressa).

   

Pembuatan Rorak

   

Pemupukan organik disela-sela tanaman kopi

Pemasangan feromon sex PBKo

 

 

 

BPTP Papua hadir sebagai nara sumber pada kegiatan Sistem Integrasi Tanaman Ternak. Salah satu program Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke adalah Sistem Integrasi Tanaman - Ternak (SITT).  Tujuan dari kegiatan ini memberikan penyegaran kepada petani/peternak tentang SITT. Kegiatan berlangsung pada tanggal 13 November 2018 berlokasi di Kelompok Tani "Mahesa Mukti", Kampung Maninggap Miraf, Distrik Tanah Miring. Acara dibuka oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, dilanjutkan materi dari BPTP Papua yang disampaikan oleh Dr. Ir. Batseba Tiro, MP. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan SITT, pemanfaatan limbah tanaman untuk pakan dan pengolahan limbah ternak untuk pupuk organik, yang dilanjutkan dengan diskusi dan kunjungan ke kandang serta memperkenalkan peralatan yang ada dan penggunaannya untuk kegiatan SITT. Agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik maka partisipasi anggota poktan sangat diperlukan dan didampingi oleh penyuluh.

Petani di Distrik Tanah Miring menyadari bahwa kondisi saat ini lahan untuk penggembalaan ternak sapi semakin sempit, demikian juga terjadi kelangkaan pupuk dan kalaupun ada harganya relatif mahal. Kegiatan SITT merupakan solusi untuk memecahkan masalah yang ada, dimana sumber pakan dapat diperoleh dari limbah tanaman yang diproses dengan cara sederhana serta pengolahan pupuk organik dari limbah ternak untuk tanaman padi. Pada kesempatan tersebut Kepala Dinas menyerahkan bantuan peralatan untuk mendukung kegiatan SITT meliputi mesin choper hijauan, pengepres jerami, drum berkatup untuk pengolahan limbah tanaman dan ternak, terpal dan EM4. Diharapkan Kelompok Tani dapat memanfaatkan kandang beserta peralatan pendukung lainnya dengan baik agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan.

 

  

(12 November 2018), BPTP Papua melaksanakan workshop percepatan serapan dan penyusunan laporan akhir tahun 2018. Kegiatan dibuka oleh Kepala BPTP Papua (Dr.Ir.Muhammad Thamrin,M.Si), dan diikuti oleh Kasubag TU, KSPP, Koordinator Program, Peneliti, Penyuluh dan Teknisi Litkayasa BPTP Papua.

Berdasarkan laporan realisasi keuangan BPTP Papua per 09 November 2018, serapan terakhir 86,88%.  Beberapa kegiatan yang serapannya belum mencapai 80% akan dipercepat pada bulan November. Komunikasi dan koordinasi yang baik antara Penanggung Jawab Kegiatan, PUMK dan Bendahara lebih ditingkatkan lagi agar pertanggungjawaban dan kegiatan dapat berjalan lancar.

Selain percepatan anggaran, dibahas juga penyusunan laporan akhir kegiatan. Kegiatan di lapangan yang masih belum selesai agar segera di selesaikan pada 2 bulan terakhir ini. Dokumentasi dari setiap tahapan agar disusun rapi sehingga laporan yang dihasilkan berkualitas dan menarik untuk dibaca fungsional lainnya.

 

 

 

Pada tanggal 9 dan 10 November 2018 telah dilakukan kegiatan pendampingan Budidaya Organik Kopi Arabika pada Kelompok Tani  Alua Marian Kampung Waga-Waga Distrik Kurulu dan Kelompok Tani Okesa Kampung Yagara Distrik Walesi. Kegiatan Budidaya Kopi Arabika Ramah Lingkungan dibiayai Badan Litbang Pertanian melalui Kegiatan KP4S dengan PJ kegiatan Dr. Ir.  Martina Sri Lestari, MP. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jayawijaya John Hendri Tetelepta, SP, M.Si,  luas lahan Perkebunan Kopi di Jayawijaya hingga tahun 2017 ada seluas  1910 ha tersebar di 24 Distrik seperti di Walesi, Kurulu, dan Pyramid yang merupakan daerah potensial perkembangannya.  Namun produksi kopi Wamena sejak tahun 2017 menurun akibat tanaman yang sudah tua dan tidak terpelihara baik serta serangan hama dan penyakit, sehingga diperlukan sentuhan inovasi teknologi ramah lingkungan seperti peremajaan tanaman dan pengendalian hama dan penyakit.

Pendampingan dan bimtek sangat diperlukan oleh petani. Pendampingan ini bertujuan untuk melakukan pendampingan teknologi organik, dan meningkatkan kapasitas petani melalui bimtek lapangan berbasis kopi organik. Kegiatan didampingi oleh Kasie Perbenihan Perkebunan Sahrul, SP langsung dilakukan dilahan petani kopi dengan menjelaskan dan mengajarkan cara budidaya organik kopi arabika meliputi sanitasi kebun, pemangkasan tanaman kopi dan naungan, pembuatan rorak, cara pembuatan pupuk organik dari sisa-sisa tanaman, cara pupuk organik dan pemasangan feromon sex PBKo. Hasil pengamatan dilapangan kebun kopi milik petani kurang dilakukan perawatan dan pemiliharaan terutama pemangkasan sehingga kebun menjadi lembab dan kotor penuh dengan rumput atau gulma. Hasil pemantauan serangan hama PBKo terlihat bahwa dari 100 biji kopi 20-43% terserang hama PBKo. Melalui pendampingan budidaya kopi  organik diharapkan mampu meningkatkan kesadaran petani pentingnya perawatan tanaman kopi sehingga produksi biji kopi yang diperoleh melimpah (Septi dan Ressa).

  

Pembuatan rorak

  

Pemupukan organik disela-sela tanaman kopi

Pemasangan feromon sek PBKo

 

 

  

Tanggal  8 November 2018,  telah dilakukan pemantauan dan pengamatan kegiatan Inhouse Perakitan Paket Teknologi Budidaya Ubi Jalar Lahan Kering Spesifik Lokasi di Kampung Eromb Distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke.   Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah memperbaiki sistem tanam ubijalar pada lahan kering; Memperoleh paket rekomendasi pemupukan tanaman ubijalar pada lahan kering dan mendapatkan teknik pengendalian hama boleng C. formicarius pada tanaman ubijalar.

Hama boleng atau laknas atau Cylas formicarius merupakan hama yang sangat penting dan merugikan tanaman ubi jalar di Kabupaten Merauke. Ulat ini akan merusak umbi baik di lapangan dan tempat penyimpanan. Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh serangan C. formicarius dapat mencapai  90%. Stadia C. formicarius yang menyerang ubi jalar adalah larva. Larva C. formicarius akan menghabiskan siklus hidupnya di dalam umbi dan memakan umbi dengan membuat liang-liang gerekan. Umbi yang terserang terasa pahit dan tidak laku dijual. Pemasangan feromon sex bertujuan sebagai alat monitor keberadaan dan perkembangan populasi serangga hama hama C. formicarius di lapangan, untuk penangkapan massal serangga jantan (mass trapping), dan untuk mengacaukan proses perkawinan. Hasil pemantauan perangkap fero-lanas yang di pasang sejak tanggal 18  Oktober hingga saat ini tanggal 8 Novermber (20 bari setelah pasang) jumlah kumbang jantan yang terperangkap pada perlakuan dengan kode A1B1C3= 25 kumbang, A2B3C3= 35 kumbang, A1B3C3= 65 kumbang dan pada kode A3B3C3 terdapat 63 kumbang jantan yang terperangkap dalam toples fero-laknas yang terpasang di lahan. Dengan berkurangnya jumlah kumbang jantan maka jumlah kumbang betina yang terkawini akan berkurang dan akhirnya populasi hama boleng akan menurun dan berkurang (Hariyanto dan Rodias).

  

Pengamatan kumbang jantan yang terperangkap