JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение


(Sentani, 17 Januari 2018) Upacara rutin setiap tanggal 17, Upacara Bendera dan Apel Kesadaran Nasional Korpri di Bptp Balitbangtan Papua diikuti seluruh pegawai ASN dan tenaga kontrak. Kepala Balai, Dr. Muhammad Thamrin selaku Pembina Upacara menyampaikan pentingnya kedisiplinan, kejujuran dari setiap ASN dan jiwa melayani seperti yang tertuang dalam panca prasetya Korpri. Selain itu, Ka.Balai juga menyampaikan hasil Rakernas dan Rapim B di Jakarta dan Bogor mengenai kegiatan strategis Kementan di Tahun 2019.

  

                                      

 

 

Upacara Hari Kesadaran Nasional berupa upacara bendera yang rutin diperingati setiap tanggal 17 setiap bulan, memiliki makna yang sangat penting untuk setiap ASN, selain untuk memantapkan kualitas pengabdian serta meningkatkan kecintaan kepada bangsa dan negara, juga merupakan salah satu wujud nyata pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang diamanahkan. (Ressa RnD)

(Sentani, 14 Jan 2018) Guna mendukung program pengembangan jeruk di  Provinsi Papua, BPTP Balitbangtan Papua akan  menghasilkan  benih pokok atau Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) yang berasal dari benih tanaman induk benih dasar. Adapun Varietas yang di tanam terdiri dari : Varietas Siam Banjar, Siam Pontianak, sari Agrihorti,Manis Pacitan, Keprok Batu 55, Keprok Monita Agrihorti dan Nipin Borne berasal dari Balitjesro, semua variatas ini berasal dari Balitjesro Malang.

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Sumber:  http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

 

 

    

 

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

 

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bp

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

Pohon induk jeruk bebas penyakit dklasifikasikan sebagai (1) Benih penjenis/(Breeder seed) adalah klasifikasi benih paling awal yang biasanya dihasilkan dan dalam pengawasan pemulia tanaman yang menseleksi atau merakit varietas tersebut, (2) Benih dasar / Blok Fondasi (Foundation Seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih sumber, dan  (3) Benih pokok / Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT/Stock seed) adalah benih yang tanaman induknya berasal dari benih dasar. Sedangkan benih jeruk yang diproduksi di Blok Penggandaan Mata Tempel oleh penangkar berdasarkan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih merupakan benih sebar jeruk untuk petani.

Alur proses produksi pohon induk jeruk bebas penyakit yang merupakan alur proses regulasi benih jeruk bebas penyakit yang diakui secara nasional sehingga dalam penangkaran benih jeruk bebas penyakit harus mengacu pada proses ini. Sebelum di sebar ke petani, suatu calon varietas harus ditentukan Pohon Induk Tunggalnya, kemudian dari pohon induk yang terpilih diambil materi untuk perbanyakan atau benih keturunannya untuk dilakukan “pembersihan” dari patogen sistemik penyakit jeruk di laboratorium dengnan menggunakan teknik Penyambungan Tunas Pucuk (PTP) atau Shoot Tip Grafting (STG).

[cml_media_alt id='1709']Alur_Proses_Produksi_Pohon_Induk_Jeruk_BPMT[/cml_media_alt]
Gambar. Alur  proses  produksi  pohon  induk  (benih  penjenis) dan  distribusi  bibit  jeruk  bebas  penyakit

Prinsip dasar dari teknik ini, adalah menyambungkan jaringan meristem paling ujung tunas jeruk pada varietas tertentu dengan batang bawah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Alasannya, patogen sistemik yang telah ada pada jaringan tanaman pohon induk belum sampai pada bagian ujung tunasnya sehingga akan diperoleh individu tanaman hasil penyambungan secara in vitro yang bebas dari patogen sistemik.

Untuk memastikan bebas tidaknya dari patogen sistemik maka benih harus dilakukan indeksing  dengan menggunakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Eliza. Setelah dinyatakan bebas, maka benh tersebut menjadi Pohon Induk (PI) sebagai duplikat dari PIT. Dari PI ini dapat diturunkan menjadi BF, diturunkan lagi menjadi BPMT sampai menjadi benih sebar yang siap di tanam di lapang. Proses menghasilkan BF sampai menjadi benih sebar ini mendapat pengawasan secara ketat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).

Syarat benih BF dan BPMT yang siap kirim adalah;

  1. Diameter batang bawah 0,6-1,2 cm
  2. Umur dari okulaso 5-6 bulan
  3. Tinggi benih 40-70 cm dari okulasi
  4. Telah mengalami 2 kali masa pertumbuhan tunas
  5. Berlabel bebas penyakit dari BPSB (label putih untuk BF dan label ungu untuk BPMT)


Read more http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/produksi-dan-distribusi-bf-dan-bpmt/

 

 

Salah satu produk pertanian yang memiliki pangsa pasar cukup luas, bernilai ekonomi dan banyak dikembangkan adalah buah-buahan diantaranya jeruk Siam. Kabupaten Nabire menjadi salah satu sentra  produksi jeruk Siam di Provinsi Papua karena kesesuaian tanaman jeruk dan lingkungannya. Kabupaten Nabire mempunyai potensi yang tinggi dan dalam RPJM pemerintah daerah akan mengembangkan jeruk di daerah tersebut.  Akan tetapi, perluasan areal pertanaman dan peningkatan produksi tidak sejalan dengan penyediaan benih jeruk yang bermutu.

Kementerian Pertanian lewat anggaran APBNP telah menyiapkan benih jeruk sebar yang bermutu melalui BPTP Balitbangtan Papua sebanyak 15.000 bibit untuk kabupaten Nabire. Penandatanganan Berita Acara  Serah Terima (BAST) Bibit Jeruk sebanyak 1.500 (seribu lima ratus)  bibit telah dilaksanakan tanggal 17 Desember 2018 antara  Syafruddin, SP selaku kepala dinas  Pertanian  Kabupaten Nabire dengan BPTP Balitbangtan Papua diwakili PJ. Perbenihan Jeruk Petrus A Beding, SP, M.Sc. Pada hari itu juga dilakukan  penyerahan  bibit jeruk sebanyak 15.000 dari BPTP Papua yang diwakili oleh  Petrus A Beding, SP, M.Sc selaku peneliti diserahkan  kepada Dinas Pertanian dalam hal ini diwakili oleh Kepada Bidang Hortikultura Kabupaten Nabire Ir. Jatmiko di Kampung Kalisemen Distrik  Nabire Barat.

 

(Sentani, 11 Januari 2019) Mengawali tahun 2019, bertempat di Aula BPTP Papua (11/01) diadakan rapat koordinasi pelaksanaan kegiatan balai, pengkajian/diseminasi dan penandatanganan pakta integritas tahun anggaran 2019.Kegiatan dihadiri oleh pejabat struktural Eselon III (Kepala Balai) dan Eselon IV (Kasie. KSPP dan Kasubbag TU) beserta seluruh pegawai BPTP Papua meliputi peneliti, penyuluh, litkayasa, administasi dan tenaga kontrak di BPTP Papua.

   


Kepala Balai, Dr. Muhammad Thamrin dalam arahannya menyampaikan bahwa seluruh pegawai harus bahu membahu membangun BPTP Papua lebih baik ke depannya, seluruh pegawai harus melaksanakan tupoksinya masing-masing."BPTP adalah wakil Kementan di daerah, berbagai kegiatan strategis kementan dimandatkan kepada BPTP. Kepercayaan Ditjen dan eselon I lain kepada Balitbangtan melalui BPTP ini harus kita jawab dengan pelaksanaan tugas yang baik dan bertanggung jawab. Terutama pada kegiatan UPSUS, hanya Papua dan Papua Barat yang Penanggungjawabnya adalah Kepala BPTP". kata Thamrin.

Kasie KSPP, Dr. Niki Lewaherilla menyampaikan secara rinci kegiatan pengkajian dan diseminasi baik kegiatan in house maupun pendampingan. Program BEKERJA (bedah kemiskinan rakyat sejahtera), SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani), OPAL (Obor Pangan Lestari) dan berbagai program lain Kementan perlu didukung juga oleh dan dilakukan penderasan informasi melalui website dan medsos balai dan medsos masing-masing pegawai. Penderasan ini dilakukan agar seluruh masyarakat mengetahui program yg sedang dijalankan dan masyarakat petani memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut.

Dr. Martina, koordinator program menambahkan, dalam mendukung program tersebut, Kementan memberikan pagu anggaran untuk BPTP Papua sebanyak Rp11.937.538.000,-.
Melihat capaian tahun lalu,  serapan anggaran BPTP Papua memperoleh peringkat ke-2 terbaik se-Indonesia lingkup BB Pengkajian dengan angka serapan mencapai 99,67%. Oleh karena itu dengan pagu yang relatif lebih kecil, diharapkan kinerja serapan dapat dipertahankan dengan manfaat yang dapat dirasakan oleh setiap stakeholder BPTP.

Selain memacu semangat kerja di tahun 2019, salah satu hal yang menjadi sorotan adalah masalah kedisiplinan. Kasubbag TU, Muflin Nggobe, M.Si dalam pemaparannya menyampaikan rekap absensi pegawai yang masih ditemukan absensi tanpa keterangan setiap bulannya. Hal ini menjadi teguran kepada ybs dan perhatian bagi pegawai lainnya agar meningkatkan kedisiplinan karena sangat berkaitan erat dengan pemberian tunjangan kerja yang membuat kinerja pegawai ybs tidak optimal. Selain itu disampaikan pula berbagai kegiatan ketatausahaan meliputi kepegawaian, perlengkapan dan keuangan.

Dalam acara ini pula ditampung aspirasi, masukan dari setiap pegawai kepada Balai dan langsung ditanggapi oleh pejabat struktural. Dengan terselenggaranya Rapat koordinasi ini, diharapkan kegiatan kedepannya bisa terlaksana dengan lebih baik lagi. (Ressa RnD)

 

     

 

  

(Jayapura, 10 Jan 2019) Keluarga Besar BPTP Balitbangtan Papua menyambut Tahun 2019 dengan sukacita. Seluruh pegawai dan keluarga pegawai dipertemukan dlm acara ibadah natal dan menyambut tahun baru 2019. Acara ini menjadi momen untuk mempererat tali silaturahim dan lebih istimewa lagi, acara ini juga diikuti segenap pegawai KP. Merauke serta pegawai purna tugas.

 
 
 
Kepala Balai, Dr. Ir. Muhammad Thamrin dalam kesempatan ini menunjukan komitmen dan perhatiannya kepada para staf melalui pemberian piagam penghargaan bagi pegawai teladan. Piagam ini diberikan kepada 4 pegawai dari 4 kategori yakni Sri Sihombing sebagai penyuluh Madya senior dari grup peneliti/penyuluh, Sohra sebagai Bendahara Pengeluaran dari bagian administrasi, serta Sujarwo dan Lewi Bombong sbg litkayasa dan tenaga kontrak teladan. Sebagai apresiasi atas kinerjanya selama satu tahun, penghargaan ini juga diberikan dalam rangka untuk memotivasi semangat kerja bagi segenap pegawai BPTP Balitbangtan Papua. Menghadapi ritme kerja yang cukup cepat, pegawai diharapkan dapat menyesuaikan diri dan bersiap menghadapi tuntutan pekerjaan. Sebagai seorang ASN, era revolusi industri 4.0 harus diikuti dengan kecakapan dan integritas yang baik.
 
      
 
 
Mendapatkan amanah sebagai Penanggung jawab UPSUS Papua, BPTP diharapkan dapat memenuhi bagian target yang diemban dari Bapak Menteri Pertanian untuk LTT 3 juta hektar se-Indonesia. Selain itu, masih banyak tugas lain yang diemban BPTP Papua diantaranya kegiatan pengkajian in-house, kegiatan pendampingan dan berbagai kegiatan yang bersifat top-down dari Kementerian Pertanian. Di bidang administrasi, BPTP melalui UAPPA/B-W juga merupakan perwakilan Setjen dalam mengawal kegiatan dan laporan keuangan satker yang menggunakan APBN. Oleh karena itu, penting untuk mensinergiskan setiap kegiatan dengan mengumpulkan semua pegawai dalam suasana yang hangat sehingga didapatkan tim yang solid dan siap melaksanakan tugas pekerjaan guna menjadi institusi litbang pertanian yang berkualitas dan membantu petani dalam usaha pertaniannya melalui teknologi inovasi terbarukan. (Ressa RnD)