JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pada penghujung Tahun 2018, BPTP Papua melaksanakan kegiatan Temu Teknis Inovasi Teknologi Pertanian di Papua. Kegiatan yang dilaksanakan hari Senin, 10 Desember 2018 di Aula Bappeda Keerom merupakan kerjasama BPTP Papua dengan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Keerom. Hadir dalam temu teknis Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Keerom, KTNA Provinsi Papua, Kasie Kelembagaan Penyuluhan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi papua, Penyuluh se-Kabupaten Keerom, serta KTNA Kabupaten Keerom.

Melalui sambutannya Dr.Ir. Niki E Lewaherilla, M.Si mewakili Kepala BPTP Papua menyampaikan bahwa BPTP Mempunyai tugas khusus memberikan bimbingan teknis dan menyiapkan materi penyuluhan. Terkait dengan tugas tersebut perlu adanya sinkronisasi kegiatan hasil pengkajian maupun pendampingan BPTP dengan Dinas Pertanian maupun penyuluh setempat. Kebijakan Litkajibangrap harus dilaksanakan dari awal sampai akhir sehingga dampaknya bisa dirasakan terutama bagi pengguna inotek yaitu petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kab. Keerom, Yuda Ansaka, SP juga menyampaikan bahwa jumlah penyuluh di Keerom sebanyak 135 orang yang tersebar di 7 BPP diharapkan mampu mendampingi petani secara maksimal dengan inovasi teknologi yang sudah mulai berkembang, salah satunya dari BPTP Balitbangtan Papua. Abner Basna, SP, M.Si (Kasie. Kelembagaan Penyuluhan) turut menyampaikan materi  Arah Kebijakan Penyuluhan dalam Pengembangan Pertanian Papua dan dilanjutkan dengan materi Ketua KTNA Provinsi Papua (Ir. Sinta Saragih) terkait peran dan sinergitas KTNA dalam Penyuluhan.

Temu Teknis Inovasi Teknologi Pertanian disampaikan materi hasil kajian dan pendampingan teknologi yaitu inovasi teknologi budidaya padi gogo (Dr.Alberth Soplanit); Integrasi ternak sapi-tanaman pangan (Dr. Batseba M.W Tiro); Inovasi budidaya bawang merah dataran rendah (Rohimah Handayani, M.Si); Inovasi teknologi budidaya jagung komposit (Dr. Niki E Lewaherilla); dan Peran BPTP dalam peningkatan Penyuluh Daerah (Ir. Sri Rahayu Sihombing).

Melalui kegiatan temu teknis inovasi teknologi diharapkan hasil kajian dan pendampingan BPTP Balitbangtan Papua mampu di diseminasikan kepada penyuluh di Kabupaten Keerom. Selanjutnya penyuluh melanjutkan kepada petani untuk diterapkan yang tujuan akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani.

  

  

(Merauke, 11 Des 2018) Wilayah perbatasan merupakan beranda terdepan sebuah negara, gambaran awal sosok sebuah negeri yang besar. Keseriusan pemerintah dalam menangani daerah-daerah di perbatasan ini tidak perlu dipertanyakan lagi, telah tertuang sebuah komitmen dalam nawacita ketiga Presiden Jokowi, membangun di wilayah perbatasan.

Pertanian merupakan salah satu sektor strategis, penggerak ekonomi masyarakat khususnya yang berada jauh dari perkotaan. Untuk mewujudkan itu Kementerian Pertanian melakukan berbagai upaya mendorong kemajuan pertanian daerah-daerah yang secara geografis berbatasan dengan negara lain menuju terwujudnya swasembada pangan.

Badan Litbang Pertanian sebagai penghasil inovasi teknologi pertanian mengemban tugas mulia mewujudkan swasembada pangan melalui penerapan inovasi teknologi pertanian yang spesifik dan kompatibel pada berbagai wilayah. BPTP Balitbangtan Papua sebagai salah satu UPT Balitbangtan, bertanggung jawab hal tersebut di wilayah Papua, khususnya pada lima kabupaten/kota yang berbatasan langsung dengan negara PNG, yaitu Kota Jayapura, Kab. Keerom, Pegunungan Bintang, Boven Digoel, dan Merauke. Dalam dua tahun terakhir, BPTP Balitbangtan Papua telah melakukan berbagai kegiatan dalam mendukung program swasembada pangan di daerah perbatasan berupa diseminasi dan pendampingan teknologi padi organik, jagung hibrida-komposit, ayam KUB serta kegiatan TOT teknologi pertanian pada lima kabupaten yang berbatasan dengan PNG.

Berkaitan dengan hal tersebut, pada tanggal 11 Desember 2018 dilaksanakan Rapat Koordinasi dan FGD di ruang rapat Kantor Dinas Pertanian Merauke. Rapat dihadiri oleh Kepala BPTP Papua/Penanggung Jawab UPSUS Pajale (Dr. Ir. Muhammad Thamrin, M.Sc), Kepala Dinas Pertanian Merauke (Edi Santoso, B.Sc), Anggota Tim LPBE-WP Perbatasan Nasional BBP2TP Bogor (Dr. Ir. Bachtar Bakri, MSc), Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Merauke (Ir. Muhammad Musdar), Kepala Sub Divre Bulog Merauke (Ir. Yudi Wijaya), staf dosen Universitas Musamus, Politeknik Yasanto, staf Bagian Perbatasan Merauke, Kabid/Kasie Dinas TPH Merauke, para peneliti, penyuluh, serta Mantri Tani dari Distrik-Distrik sentra padi.

Dalam sambutannya, Edi Santoso menyampaikan bahwa meskipun Merauke berada di ujung timur Indonesia namun memiliki potensi besar menjadi daerah swasembada pangan karena didukung dengan lahan yang luas, kesuburan tanah, serta spirit para petani. Tahun 2018 produktifitas padi mengalami peningkatan dari 4,36 t/ha menjadi 6,06 t/ha. Peningkatan ini merupakan bukti nyata kontribusi teknologi Balitbangtan berupa introduksi varietas unggul baru (VUB), cara budidaya padi serta teknologi lainnya yang menyertai. Pada sisi lain dukungan Kementerian PUPR dalam membenahi infrastruktur pengairan, semakin mendekatkan terwujudnya upaya peningkatan indeks pertanaman di Merauke.

Menjadikan Merauke sebagai daerah lumbung pangan bukanlah isapan jempol, sejarah mencatat perjalanan panjang pertanian semi modern Merauke sejak jaman Belanda melalui Proyek Padi Kumbe yang saat itu menargetkan pemenuhan pangan untuk kawasan Asia Pasifik. "Kita hanya bisa berhasil jika saling berkoordinasi, sinergi dan bekerjasama lintas institusi", demikian pernyataan penutup yang disampaikan Edi Santoso dalam rapat koordinasi dan FGD lumbung pangan berorientasi ekspor (Sudarsono)

  

  


(Merauke, 10 Des 2018) Penghujung tahun 2018, kembali BPTP Papua melaksanakan panen bersama komoditas jagung di Merauke, Papua, melalui kegiatan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor-Wilayah Perbatasan (LPBE-WP).  Pada kesempatan ini, Wakil Bupati Merauke (Sularso) berkesempatan hadir bersama Kepala BPTP Balitbangtan Papua/PJ UPSUS Pajale (Dr. Ir. Muhammad Thamrin, M.Si) didampingi Tim LPBE-WP dr BBP2TP Bogor, (Dr. Ir. Bachtar Backrie, MSc), para petani, peneliti dan penyuluh melaksanakan panen bersama jagung hibrida Nasa 29 di Kampung Yabamaru, Distrik Tanah Miring, Merauke, Papua. Varietas Nasa 29 merupakan salah satu varietas unggulan Balitbangtan karena memiliki potensi hasil tinggi hingga 11 ton/ha, dan kini telah banyak dikembangkan di berbagai daerah.

      
Selain padi, Merauke juga potensial dalam pengembangan jagung, baik pada musim hujan di wilayah utara Kab. Merauke (Distrik Muting, Ulilin, Eligobel dan Jagebob), maupun di musim kemarau pada wilayah sentra padi. Selain dukungan lahan baku yang luas, kondisi lahan subur juga menjadi menjadi penguat potensi pengembangan. Hal ini terlihat bahwa produksi jagung komposit eksisting di lahan petani di Distrik Jagebob mampu mencapai 4 ton/ha, tentunya dengan penerapan teknologi yang tepat produktifitas jagung di tingkat petani dapat ditingkatkan.

“Jangan ragu tanam jagung”, demikian penggalan penyataan wakil Bupati Merauke (Sularso) dalam sambutan di acara panen tersebut, untuk itu Pemda Merauke akan menerapkan beberapa regulasi seperti proteksi pasar dan harga serta kebijakan pendukung lainnya agar komoditas jagung di Merauke bisa dikembangkan.  Pengembangan jagung tentunya harus disertai dengan industri lainnya, misalnya pakan ternak, agar usaha bisa berkelanjutan. Merauke diharapkan dapat berkotribusi dalam penyediaan bahan baku pakan ternak untuk mengurangi potensi impor jagung. Pemda Merauke optimis dengan potensi luas tanam jagung 50.000 ha untuk dua musim tanam, mampu memenuhi kebutuhan nasional pakan ternak sebesar 16%.

Kini Merauke telah diakui secara nasional sebagai salah satu kabupaten penyokong swasembada beras dan jagung, “raksasa pangan” di wilayah timur Indonesia, yang nantinya diharapkan menjadi basis utama titik ekspor komoditas pertanian dari timur. (Sudarsono&Ressa)

 

 

(Nabire,10 Desember 2018) Nabire, Kabupaten ke-2 penyandang luas areal sawah terluas di Papua setelah Merauke ini giat mengoptimalkan hujan yang turun di akhir tahun ini untuk menambah capaian Luas Tambah Tanam.
Sebagai tindak lanjut hasil rakor, dengan potensi 1.400 ha, di bulan desember ini Kadistan, Syafruddin sebagaimana disampaikan pada Rakor UPSUS Papua di Jayapura, mematok target 500 ha. Sumbangsih hampir seperempat luasan dari target Pj. UPSUS Papua oleh Kementan.

Syafruddin sebagai komandan pertanian Nabire mengemukakan bahwa Nabire saat ini sudah mengarah ke swasembada pangan dan ini sudah mulai terlihat dari luas areal tanam hingga panen pada desember 2018. Uuntuk padi kami panen hingga 3.373 ha jika ditata ratakan hasil gabah kering panen 5 ton saja maka mencapai 16.865 ton dalam setahunnya,itu hanya 5 ton kalau produksi ditingkatkan hingga 7 ton dengan mengadopsi inovasi teknologi sedemikian rupa mulai penggunaan benih berlabel,jarak tanam penggunaan sarana produksi tersedia maka tak menutup kemungkinan akan tercapai produksi lebih dari yang diharapkan" ujarnya.

Di sela kunjungan BPTP Balitbangtan Papua dalam hal ini salah satu LO UPSUS ingin membuktikan kebenaran statement tersebut maka bersama staf dinas Tanaman Pangan Nabire berkunjung ke beberapa lokasi persawahan dan terlihat hamparan sawah menghijau dan lahan siap tanam laksana jajaran bendera padi dan persemaian bahkan ada yang sedang melakukan proses tanam padi yang membuat hati tak ingin pulang dan memanjakan mata dan hati untuk mengambil moment dan mengabadikannya.Sukses untuk nabire dalam mendukung swasembada pangan dan mendukung program pemerintah salah satunya program UPSUS (Upaya Khusus) Padi,jagung dan Kedelai.

Di sisi lain, sentuhan inovasi teknologi Balitbangtan di Nabire juga sangat menggembirakan. Inotek sistem tanam jajar legowo dan varietas Inpari terbaru, Nabire selalu terdepan di Papua. Jarwo sudah mendarah daging di setiap petani Nabire. Dibandingkan daerah lain di Papua, hamparan padi sepanjang Nabire sudah sangat dominan ditanam dengan sistem tanam Jajar legowo, Jika tersedia air di sepanjang tahun, Indeks Pertanamannya bisa mencapai hingga 3 kali walaupun carry over hasil panen di tahun berikutnya.

PR bersama mewujudkan IP-3 di Kab. Nabire dengan menggelar padi VUB Balitbangtan dalam karpet hijau bercorak Jajar Legowo 2:1.

BPTP Papua sebagai Pj. UPSUS dan juga UPT Balitbangtan dalam sisi yang bersamaan sangat mengapresiasi Nabire sebagai Kabupaten dengan tingkat penerimaan inotek pertanian yang tinggi dan sumbangsih LTT bagi Papua yang signifikan setelah Merauke. (Muhammad Nur, Ressa)

  

       

 

 

 

Bimtek lahan bukaan baru di Kabupaten Nabire menjadi strategi BPTP Papua mengoptimalkan pemanfaatan lahan. Kegiatan bimtek dilaksanakan pada tanggal 30 November 2018 dihadiri oleh Kepala BPTP Papua Dr. Ir. Muhammad Thamrin, M.Si,  Dr. Ir. Wayan Suastika (Puslittanah), Dr. Ir. Martina Sri Lestari, MP (Peneliti BPTP) ,  Koramil Distrik Legari, Dinas Tanaman Pangan Kab Nabire,  PHP,  Penyuluh,  peneliti BPTP papua, kepala kampung dan kelompok tani cetak sawah Kampung Lagari.

Pada pembukaan   Bimtek  Kepala BPTP Papua  menyampaikan bahwa keseriusan  pemerintah untuk mencapai Swasembada Pangan terus melakukan berbagi upaya diantaranya melalui program pencetakan  sawah baru yang didukung dengan alsintan dan jaringan irigasi. Kabupaten Nabire tahun 2018 melaksanakan program penambahan cetak sawah seluas 200 ha termasuk Kampung Legari seluas 68 ha. Lebih lanjut  dikatakan bahwa lahan sawah yang baru dicetak  dihadapkan pada berbagai permasalahan sehingga perlu dilakukan pengkajian dan pendampingan.  Salah satu mandat BPTP  adalah menyiapkan paket inovasi teknologi spesifik lokasi,  kajian UJI ADAPTASI 5 VUB di lahan cetak sawah baru ini  menjadi contoh  hilirisasi teknologi. Diharapkan teknologi varietas tersebut mampu beradaptasi dengan kondisi spesifik lokasi sehingga produksi maksimal bisa tercapai.

Selanjutnya Dr. I. Wayan Suastika, M.Si  salah satu ahli tanah  dari Pusat Penelitan Tanah  menyatakan  bahwa masalah lahan sawah bukaan baru  adalah kesuburan tanah,  ph rendah, kandungan bahan organik dan  hara P dan K rendah dan kadar Fe yang dapat meracuni tanaman padi. Keracunan besi atau Fe tidak hanya disebabkan oleh ph rendah tetapi juga disebabkan oleh kekurangan K, P, Ca, Mg dan bahan organik tanah.  Upaya –upaya yang dapat dilakukan yaitu  penggunaan VUB yang yang toleran, pemupukan  sesuai kebutuhan,  serta pengairan berselang.  Menurut Dr. Suastika lahan cetak sawah di Kampung Lagari mempunyai kandungan besi yang tidak terlalu sgnifikan atau tidak terlalu banyak sehingga tidak  akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman,  tidak tampak adanya lapisan pirit, air yang berada di saluran  berwarna keruh kecoklat  sedikit mengandung AL yang diyakini tidak akan menyebabkan tanaman keracunan dan pada areal lahan sawah yang masih tergenang berwarna hijau menunjukkan lahan mengandung nitrogen yang cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan  pertumbuhan padi  yang tergolong cukup baik dan estimasi produksinya  bisa mencapai 3,5-5,5 ton/ha GKP ungkapnya.  Pada akhir pembicaraan beliau menghimbauan supaya bapak-bapak para petani untuk kompak melakukan penanaman secara serempak dan secara perlahan-lahan membuat galangan sebagai ciri dari sawah adalah yang memiliki pematang atau galangan dan sistem pengairan berselang bisa dilakukan. Dengan begitu dalam waktu 1 – 2 tahun kedepan produksinya akan lebih maksimal pungkasnya.

Materi bimtek dilanjutkan dengan pengendalian hama penyakit oleh Dr. Martina Sri lestari  menyatakan bahwa serangan hama penyakit tergolong rendah, meskipun ada dibeberapa tempat teridentifikasi ulat penggulung daun dan wereng hijau. Petani dihimbau segera dikendalikan menggunakan insektisida yang sesuai  berdasarkan konsep PHT. Untuk meminimalkan serangan hama kedepan Dr. Martina menyampaikan agar menanam bunga refugia disekeliling pematang. Pada sessi terakhir Arifuddin Kasim, SP (peneliti) BPTP Papua menambahkan bahwa teknologi budidaya khususnya pemilihan varietas yang spesifik, umur bibit maksimal 25 hari, pelaksaan sistem jajar legowo perlu diterapkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas. Dengan kegiatan ini diharapkan teknologi-teknologi yang diterapkan pada lahan sawah bukaan baru kegiatan BPTP Papua dapat menjadi contoh dan teradopsi oleh petani di Kampung Lagari Jaya sehingga produktivitas tanaman bisa tercapai sesuai target 6 ton/ha pada lahan bukaan baru.

  

Peserta bimtek peningkatan produksi padi di lahan bukaan baru

  

Penampilan tanaman padi lahan bukaan baru Kab. Nabire