JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

 

Selasa, 14 Agustus 2018 bertempat di Balai Besar Biogen, Bogor  telah berlangsung Konggres Sumber Daya Genetik yang merupakan program rutin Komisi Nasional Sumber Daya Genetik (Komnas SDG), setiap dua tahun sekali. Tujuan pelaksanaan konggres adalah melaksanakan koordinasi dan menjalin kerjasama antar stakeholder pengelola sumber daya genetik (SDG) dalam kegiatan pelestarian dan pemanfaatan SDG secara berkelanjutan serta sebagai upaya penyadaran publik tentang pentingnya pelestarian dan pemanfaatan SDG.  Kegiatan ini merupakan wadah pertemuan bagi penggiat SDG, petani, perguruan tinggi, lembaga penelitian nasional, dan komisi daerah SDG (Komda SDG) untuk saling berbagi informasi terkait pengelolaan SDG di daerah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua (BPTP Papua) di wakili oleh  Mariana Ondikeleuw,S.Sos,M.Si dan Adnan,SP,M.Si ikut serta Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Papua Ir. Semuel Siriwa,M.Si. Kegiatan konggres kali ini BPTP seluruh Indonesia diminta ikut serta dalam beberapa kegiatan yakni (1) mengajukan petani pelestari yang telah menanam dan memanfaatkan sumberdaya genetik di daerahnya; (2) Genetic-Diversity Fair (G-Difa) bagi stakeholder SDG untuk mempromosikan dan meningkatkan nilai ekonomi SDG pisang unggulan daerah (3) menyampaikan peran aktif Komisariat Daerah (Komda SDG).

Dalam konggres ini hadir Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan Sumber Daya Genetik (SDG) yang melampaui negara-negara lain di dunia. Untuk itu menjadi tanggungjawab bersama, khususnya Kementerian Pertanian untuk menjaganya dari kepunahan.

Menurut Amran, persaingan yang paling ketat di masa yang akan datang salah satunya adalah pangan. Untuk itu pemerintah memberikan perhatian serius terhadap SDG di Indonesia demi kebutuhan generasi yang akan datang. “Penduduk dunia pada tahun 2043 diperkirakan mencapai 9.3 milyar jiwa. Bisa dibayangkan jika penduduk sebanyak itu namun daya dukung bumi tidak mencukupi, bagaimana kondisi pada 100 tahun kemudian?” Papar Amran. Keberadaan Indonesia di garis khatulistiwa menjadi salah satu faktor negara ini menjadi subur dan kaya SDG. Jika terjadi kelaparan di belahan dunia, maka Indonesia akan menjadi salah satu yang diperebutkan kekayaan alamnya, termasuk SDG pertaniannya.

“Salah satu daerah perebutan makanan nanti adalah Indonesia. Jika kita tidak kuat, SDG kita tidak dijaga dan dibiarkan punah, maka kita akan sulit bersaing.” Ujarnya.

Selain mewajibkan untuk menjaga, Amran juga meminta agar Kementan mampu mengembangkan SDG yang saat ini telah dikoleksi. Menurutnya, SDG yang mampu disimpan selama 100 tahun sekali pun tidak akan bermanfaat jika tidak dikembangkan. “Jangan sampai dijadikan museum ya? Tapi dijaga dan dikembangkan.” Tegasnya. 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Inventor dan Pengelola KI dalam penyusunan dan Pengelolaan Kekayaan Intelektual dengan tema Percepatan Pertanian Bernilai Kekayaan Intelektual menuju Inovasi diselenggarakan oleh Balitbangtan bertempat di IPB Convention Center Bogor pada tanggal 7 - 10 agustus 2018. Bimtek dihadiri kurang lebih 70 pejabat struktural dan inventor dr UK/UPT lingkup Balitbangtan dan para finalis agriventor.

Pembukaan oleh Dr Retno Sri Hartati Mulyandari yg mewakili Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) berlangsung hari Selasa, 7 Agustus 2018. Beliau menyampaikan bahwa perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) menjadi issu yg sangat penting dan strategis, karena perlindungan erat kaitannya dgn perdagangan bebas. Dalam dunia bisnis perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) tdk lepas dan atau memerlukan paten, merk, hak cipta, perlindungan varietas tanaman dan lainnya.

Menurut Dr Retno Sri Hartati Mulyandari “Sejarah sudah membuktikan bahwa banyak bisnis yg tumbuh dan memperoleh keuntungan yg sangat besar karena mereka mampu memanfaatkan kekuatan invention mereka. Satu perusahaan dapat memiliki puluhan bahkan ratusan paten, yang kemudian mereka dapat menciptakan produk-prosuk mampu bersaing menjadi perusahaan teknologi terkemuka di dunia".

Kegiatan Bimtek diisi dengan asistensi penyusunan draft paten bagi inventor Balitbangtan. Melalui kegiatan asistensi ini diharapkan dihasilkan 30 draft paten baru Balitbangtan yang dapat didaftarkan ke Ditjen HKI. Jumlah tersebut akan menambah total pendaftaran paten Balitbangtan, yang hingga saat ini telah tercatat sebanyak 335 invensi. Selain itu Balitbangtan jg telah menghasilkan lebih dr 500 varietas didaftarkan dan 108 varietas unggul tanaman diantaranya yang telah di mohonkan untuk di lindungi (64 di antaranya telah terbit sertifikat PVT). (Mariana).

  

 

 

 

 

 

Kamis 9 Agustus 2018 telah dilaksanakan audit eksternal sebagai persyaratan mendapatkan Lisensi ISO 9001 versi terbaru., yakni ISO 9001:2015. Audit dilaksanakan selama 3 hari tanggal 7 s/d 9 Agustus 2018. Adapun yang diperhatikan dalam audit ISO 9001:2015 ini lebih menitikberatkan pada kesesuaian sistem manajemen mutu yang telah dilakukan oleh BPTP Balitbangtan Papua  mulai dari kegiatan perencanaan, realiasi, ouput, serta evaluasi dari setiap kegiatan yang dilakukan.

Audit eksternal yang dilakukan mencangkup pada Kepala Balai selaku Top Manajemen dari BPTP Balitbangtan Papua, KSSP, Program, Kelji, serta Tata Usaha yang didalamnya mencakup klausul  Konteks Organisasi, Kepemimpinan, Perencanaan, Dukungan, Operasi, Evaluasi Kinerja serta Peningkatan. Semua klausul – klausul ini digunakan untuk membangun suatu Sistem Manajemen Mutu yang baik dan terstandarisasi, dan hasilnya bermuara untuk meningkatkan kepuasan pelanggan BPTP Papua, baik internal maupun eksternal, salah satunya adalah para  petani di Papua. Adapun auditor (Ibu Isyana Dewi)  berasal dari PT Mutu Agung Lestari selaku perusahaan yang memiliki lisensi resmi untuk menerbitkan sertifikat ISO 9001:2015.

Berdasarkan hasil audit yang telah dilaksanakan perlu adanya perbaikan dalam menjalankan sistem manajemen mutu, terutama dalam hal dokumentasi berupa perencanaan, laporan realisasi berkala, serta evaluasi terhadap output yang didapatkan. Dengan adanya perbaikan ini diharapkan mutu pelayanan BPTP Papua meningkat, serta kegiatan yang dilaksanakan lebih efektif dan efisien (Reni).  

 

   

 

 

 

 

 

(7/08/2018), BPTP Papua melaksanakan Bimbingan Teknis dan Tanam Bersama Kaji Terap Inovasi Pertanian. Kegiatan ini sebagai salah satu tugas BPTP untuk menyediakan bahan penyuluhan, meningkatkan kapasitas penyuluh dan percepatan diseminasi inovasi pertanian. Inotek yang diangkat yaitu Integrasi Kedelai - Sapi Potong. Kegiatan dilaksanakan di BPP Skanto Distrik Arso Kabupaten Keerom. Dr.Ir.Niki E. Lewaheriila, M.Si selaku KSPP BPTP Papua membuka kegiatan sekaligus memberikan arahan kepada penyuluh BPP Skanto bahwa Kaji Terap Inovasi Pertanian merupakan wujud implementasi Tupoksi BPTP yang diamanatkan dalam Permentan No. 19 tahun 2017 yakni selain merakit, mengkaji dan mendiseminasikan teknologi spesifik lokal juga menyiapkan bahan penyuluhan teknologi spesifik lokasi kepada penyuluh. Selanjutnya bahwa kaji terap inovasi teknologi sebagai wahana dan tempat belajar bagi penyuluh untuk dapat berkreasi dalam meningkatkan kapasitasnya dan dapat berdampak manfaat bagi petani dan pengguna lainnya dalam pengembangan usahatani.

Kegiatan kaji terap inovasi teknologi Integrasi Kedelai-sapi potong diawali dengan bimbingan teknis dari penyuluh senior (Ir. Sri Rahayu D. Sihombing) dengan materi pengantar perlunya kaji terap di tingkat penyuluh daerah, dilanjutkan materi Dr. Ir. Batseba M.W. Tiro, MP terkait Integrasi Kedelai-Sapi Potong di Distrik Skanto dan diakhiri materi Ir. Melkcisedek Nunuela, M.Si perihal budidaya kedelai di Kabupaten Keerom.

Kepala BPP Skanto, Ibu Dwi menyampaikan ucapan terima kasih kepada BPTP yang memberikan inovasi teknologi baru terkait integrasi kedelai-sapi potong. Harapannya melalui kegiatan ini, penyuluh dapat meningkat kapasitasnya dan mampu menularkan inovasi kepada petani untuk mengembangkan usaha tani kedelai dan sapi secara terintegrasi. Disampaikan pula bahwa kendala utama yang dikeluhkan petani dalam menngembangkan usahatani kedelai yaitu musim yang tidak menentu serta panen kedelai masih manual kurang efektif bagi petani. Demikian pula pemanfaatan jerami/brangkasan kedelai oleh petani dikembalikan ke lahan sebagai pupuk dan belum termanfaatkan sebagai pakan sapi. Dengan demikian kegiatan kaji terap inovasi teknologi integrasi kedelai -sapi potong akan memberikan manfaat bagi kesejahteraan petani.

Jerami kedelai atau bahasa jawanya “Rendeng” mempunyai kandungan Fito Estrogen yang tinggi. Fito estrogen bermanfaat menstimulasi pelepasan GnRH yang berperan untuk kebuntingan sapi betina. Apabila petani mampu memanfaatkan jerami sebagai pakan ternak akan memberikan nilai lebih pada produktivitas sapi yang dipelihara. Bersamaan dengan Bimtek inovasi teknologi juga dilakukan penanaman bersama Kedelai di lahan BPP Skanto

 

  

     

 

 


Potensi wilayah Kab. Keerom selain bersumber pada kekayaan sumber daya mineral, tanaman pangan, perkebunan sawit dan kehutanan, hal lain yang potensial untuk dikembangkan di Keerom adalah tanaman hortikultura.(https://papua.go.id/view-detail-kabupaten-231/Potensi-kab-Keerom.html). Berdasarkan catatan Balai Karantina Pertanian Jayapura, produksi jeruk keerom mengalahkan jeruk nabire dalam beberapa tahun terakhir untuk tujuan pemenuhan pasar di wilayah Jayapura dan sekitarnya dan bahkan untuk pengiriman ke daerah tambang PT. Freeport di Mimika. Berangkat dari data yang ada dengan memperhatikan topografi dan iklim wilayah Kabupaten Keerom yang merupakan lahan dengan kemiringan sekitar 52,2% dengan curah hujan <1.000 mm per tahun daerah ini cocok untuk pengembangan komoditas jeruk bersama dengan Nabire.
  
Kabupaten Keerom secara geografis berbatasan langsung dan berada memanjang di daerah perbatasan Republik Indonesia dengan Negara Papua New Guinea (PNG) memiliki luas 9.365 Km2. Dengan posisinya sebagai salah satu teras depan NKRI, daerah terluar Republik Indonesia ini perlu didorong untuk menghasilkan produk berorientasi ekspor. Selain dari sisi pemenuhan kebutuhan pangan yang diwujudkan dengan program berkelanjutan Kementerian Pertanian melalui kegiatan DIP-WP (Dukungan Inovasi Pertanian di Wilayah Perbatasan) mendukung Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor -WP, Kementan mencanangkan tahun 2018 ini sebagai tahun perbenihan.

Kementerian Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua melakukan kegiatan perbenihan jeruk di 2 kabupaten tersebut sebanyak 25.000 bibit masing-masing 10.000 bibit untuk Kab. Keerom dan 15.000 bibit untuk Kab. Nabire.
Kepala BPTP Papua, Dr. Ir. Muhammad Thamrin, M.Si melakukan serah terima bibit jeruk dengan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Keerom, Yuda Ansaka, SP.
Dalam sambutannya, Dr. Thamrin mengatakan bahwa masalah pertanaman jeruk seperti juga terjadi di beberapa sentra jeruk di Indonesia adalah penyakit terutama virus CVPD.
Hal ini juga dipengaruhi oleh penggunaan tanaman yang tidak jelas asal usulnya, tidak memenuhi kriteria benih yang baik untuk ditanam sehingga menyebarkan virus. Bibit jeruk yang diserahkan oleh BPTP Papua merupakan bibit unggul dengan batang bawah JC (japanese cytrus) yang tahan kekeringan dan genangan air dan batang atas Pontianak Siam adaptif di Papua dan agak tahan gangguan OPT.


Kementerian Pertanian akan menambah kegiatan perbenihan ini menjadi 2jt bantuan benih seluruh Indonesia pada 2019.
“Semoga benih jeruk ini bermanfaat bagi masyarakat Kab. Keerom untuk meremajakan kebunnya kembali dan mengisi kebunnya agar berproduksi maksimal“ tandasnya

Kadistan mewakili pemda setempat dan masyarakat Kab. Keerom sangat berterima kasih kepada Kementerian Pertanian dalam hal ini BPTP Papua atas pemberian benih jeruk ini. Diakui beliau bahwa pertanaman jeruk yang ada di masyarakat saat ini adalah jeruk yang sudah berumur tua sehingga tidak berproduksi optimal.
Selain bantuan bibit tanaman jeruk, BPTP juga menyerahkan bantuan berupa benih pepaya sebanyak 6.000 benih siap tanam. “Apresiasi yang tinggi untuk BPTP Papua, dengan pemberian benih unggul ini diharapkan bisa mengisi kebutuhan masyarakat akan buah-buahan komoditas jeruk dan pepaya terutama sebentar lagi kita punya hajat bersama yakni PON di Papua tahun 2020" tungkasnya.
 
Dengan bantuan dari Kegiatan Perbenihan Kementerian Pertanian melalui BPTP Papua ini semoga bisa menambah produksi jeruk dan pepaya di Kab. Keerom sehingga bisa masuk mengisi pasar lokal di Papua dan Papua Barat bahkan bisa mengirim ke negara tetangga, Papua Nugini.