JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jayapura (15/11) Menteri Pertanian membuka pelatihan bagi petani milenial Papua dan Papua Barat secara virtual.

Melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementan melaksanakan pelatihan bagi petani milenial di Papua dan Papua Barat. Kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung ketersediaan pangan ini melibatkan 20 kabupaten/kota di Papua dan 18 kabupaten/kota di Papua Barat, dengan jumlah peserta lebih dari 1.200 orang.

Para Peserta di kabupaten Jayapura mengikuti acara pembukaan Pelatihan Petani Milenial secara virtual dari Aula BLP Sentani. Turut hadir Bupati Jayapura, Kepala BPTP Papua, Kepala Karantina Jayapura, serta Kepala BBPP Batangkaluku.

Dalam sambutan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), mengatakan pelatihan bagi petani milenial di Papua dan Papua Barat mendukung ketersediaan pangan ini luar biasa. Apalagi, Papua didukung memiliki bumi yang subur. 

"Jika kita semua bergerak, maka ketersediaan pangan akan bisa dipenuhi. Namun, kita berharap petani milenial bisa menjadi yang terdepan dalam hal itu. Papua punya bumi yang subur, manfaatkan itu untuk pertanian” ujar SYL

Mentan juga menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan ‘connecting’ menjadi anak negeri dan pejuang. Satu bulan melakukan agenda ‘mixing’, dan menunjukkan hasilnya. Semua jajaran harus memperhatikan anak-anak milenial yang kini menjadi anak-anak Kementan untuk membangun pertanian Papua dan Papua Barat. 

Pada kesempatan yg sama Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, menjelaskan jika pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi (pengetahuan, keterampilan/keahlian, dan sikap) petani milenial. Pelatihan ini dilaksanakan dengan metode On the Job Training (OJT) atau metode pelatihan yang mengajarkan pengetahuan, keterampilan, kompetensi yang diperlukan oleh penyuluh dan petani langsung di lokasi usaha tani.  Dengan fasilitator yang kompeten di bidangnya, baik dari widyaiswara, dosen, dan praktisi.

Pelatihan Petani Milenial Papua di Kabupaten Jayapura diselenggarakan di Aula BPTP Papua dan BLP Papua dengan narasumber Widyaiswara-Penyuluh dari BPP Batangkaluku, BPTP Papua serta BLP Papua.

Sebagai salah satu narasumber, BPTP Papua melalui penyuluhnya memberikan pelatihan tentang Teknologi Budidaya Sayuran & Hidroponik. Selain diberikan materi diruangan, para peserta diajak praktek langsung di taman agro inovasi BPTP Papua sebagai percontohan dalam berbudidaya sayuran & Hidroponik.

  

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian yang berada di 34 Provinsi di Indonesia merupakan ujung tombak perjuangan pertanian dalam medampingi dan mendorong insan tani di mana saja berada. Disamping itu, BPTP juga berperan mengedukasi petani dalam praktek budidaya yang tepat untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dalam pelayanan pada masyarakat, BPTP Papua sebagai unit pelaksana teknis Kementan di Papua tidak hanya bersinergi dengan Pemerintah setempat tetapi juga organisasi-organisasi Kemasyarakatan hingga organisasi Keagamaan. Sepanjang 2021, BPTP Papua melaksanakan Kerjasama dalam hal pendampingan Teknologi Pertanian kepada Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKI di Tanah Papua) melalui Klasis GKI Bonggo. Organisasi Gereja ini merupakan organisasi Keagamaan umat Kristiani terbesar di Pulau Papua dengan 55 Klasis, 15 bakal Klasis dan 1.943 Jemaat (Gereja) yang tersebar di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Setelah penandatanganan MoU antara Kepala BPTP Papua, Dr.Ir. Martina Sri Lestari, MP dan Ketua Klasis GKI Bonggo, Pendeta Obed Balan, S.Th pada bulan Maret lalu, BPTP Papua terus memberikan pendampingan dan bimbingan bagi warga Jemaat GKI Bonggo dan yang juga merupakan petani lokal. Pendampingan yang diberikan diantaranya adalah praktek Budidaya tanaman aneka kacang dan Padi gogo sekaligus pengenalan Varietas Unggul tanaman Kacang tanah varietas Hypoma 1, Kacang Hijau Vima 1 serta Inpago 11 Agritan.

Pada Jumat (12/11) lalu, telah dilakukan panen bersama Kacang Tanah Varietas Hypoma 1 pada lahan seluas ¼ ha di Kampung Mawes Mukti, Distrik Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi (Papua). Hypoma 1 merupakan varietas unggul kacang tanah yang memiliki potensi hasil hingga 3,7 t/ha. Hasil panen tersebut oleh Petani lokal Mawes Mukti disepakati untuk kembali dijadikan bibit agar dapat disebarluaskan di kebun-kebun Jemaat lingkungan pelayanan Klasis GKI Bonggo. Dalam melaksanakan pendampingan kepada petani, BPTP Papua turut menggandeng Petugas Penyuluh Lapang Distrik Bonggo. Hadir dalam panen perdana tersebut Badan Pelayan AM Wilayah II Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Daniel Mofu, S.Th. Pdt. Mofu mengajak para petani untuk terus melanjutkan praktek budidaya dan berharap dari pekerjaan tersebut kedepannya petani dapat menjadi jemaat yang mandiri dan mampu menopang kebutuhan/ekonomi keluarga dengan hasil panen tanaman. “Biarlah kita, melalui pendampingan teknologi dan inovasi yang sangat baik melalui varietas tanaman unggul dari Badan Litbang Kementerian Pertanian melalui BPTP Papua mewariskan mata air bagi anak cucu kita, bukan air mata” kata Pdt. D. Mofu, S.Th.  (Merlin)

   

Mendorong Kemandirian Benih, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan meninjau lahan perbanyakan benih sumber (UPBS) di Kampung Koya Barat, Jayapura.

Jayapura (12/11) Kepala BPTP Papua, Martina Sri Lestari mendampingi Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri meninjau salah satu lahan perbanyakan benih sumber (UPBS BPTP Papua) di Kampung Koya Barat, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Turut hadir Hadir pada kunjungan Kepala Balai Karantina Pertanian Jayapura, Muhlis Natsir, dan Loka Veteriter Papua, Suryantana.

Tahun 2021, BPTP Papua melaksanakan Perbanyakan benih sumber (UPBS) di kampung Koya Barat, distrik Muaratami, Kota Jayapura. Perbanyakan benih sumber padi yang bekerja sama dengan kelompok tani Karya Mandiri. Perbanyakan benih mulai melakukan penanaman pada MT II (bulan agustus lalu). Benih yang dikembangkan di koya barat merupakan VUB dengan kelas FS. Jenis VUB yang digunakan diantaranya; Siliwangi, Inpari 30 Sub Ciherang , & Inpari 32. Program ini juga berjalan di daerah sentra produksi beras Papua yakni Merauke, Nabire, dan juga keerom

"Salah satu kunci meningkatkan produksi di Papua adalah kemandirian Benih. Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk memajukan pertanian di Papua, program mandiri benih kita jalankan di lapangan," ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, kuntoro Boga Andri saat meninjau lahan perbanyakan benih sumber (UPBS) di Kampung Koya Barat, Distrik Muata Tami, Kota Jayapura.

Selain aspek teknis, lanjut Kuntoro, pembangunan pertanian Papua harus dimelibatkan petani milenial.
"Pertanian Papua akan melesat bila petani milenial kuat. Petani milenial dapat dengan cepat mengimplementasi berbagai paket inovasi dan teknologi pertanian dari hulu ke hilir. Seperti di Kampung Koya Barat ini ada anak muda yang bertani padi untuk benih. Kedepan kita harapkan dapat melakukan pengembangan usaha melalui akses KUR dari perbankan," terang Kuntoro.

Basri, petani milenial Kampung Koya Barat yang merupakan ketua kelompok tani karya mandiri binaan BPTP Papua ini mengungkapkan, pada tahun 2020 lalu ditempat yang sama telah melakukan perbanyakan benih sumber varietas inpari IR Nutri Zinc kelas FS melalui bimbingan BPTP Papua sebanyak 20 kg. Produktivitas Inpari Nutri Zinc pada kegiatan ini adalah 5.3 ton/ha GKP, Dari hasil panen tersebut, benih sebanyak 1.8 ton didiseminasikan oleh Dinas Pertanian dan Hortikultura Kota Jayapura pada lahan seluas 80 ha di MT II tahun 2020.

"Pada tahun ini kembali melalui kolaborasi bersama BPTP Papua diilakuan perbanyakan benih sumber di koya barat diantaranya; varietas siliwangi, Inpari 30 Sub Ciherang , & Inpari 32. Rencananya hasil panen akan diambil oleh dinas pertanian kota jayapura untuk disebar lagi ke petani, untuk Harga gabah kering giling Rp 7 ribu per kilogram," ujar basri

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua, Martina Sri Lestari menambahkan BPTP Papua di tahun 2021 ini fokus menjalankan program Usaha Pengelolaan Benih Sumber. Program ini juga berjalan di daerah sentra produksi beras Papua yakni Merauke, Nabire, Kerom dan Kota Jayapura.

"Kuncinya agar Papua ini mandiri pangan adalah mandiri benih, sehingga kegiatan pendampingan pengembangan benih sumber ini menjadi kegiatan utama kami dan juga ada kegiatan pengembangan hilirisasi komoditas padi, kakao dan tanaman hortikultura," ucap Martina.